Bid'ahnya orang NU - KMNU-UNILA.Org : Menebar Dakwah Ahlussunnah Annahdliyah

Friday, March 22, 2013

Bid'ahnya orang NU

 Artikel ini diambil dari argumentasi : AHMADNURKHOLID FULL   dengan ketoklogic.blogspot.com

Bid'ahnya orang NU bukan soal fanatisme kok... ada ajarannya. Sebab bid'ah itu ada dua (ajaran ahlussunah di antaranya dinyatakan oleh imam syafi'i), yaitu: bid'ah yang baik (bid'ah hasanah) dan bid'ah yang buruk (bid'ah sayyiah). Bid'ah yang baik adalah bid'ah yang spiritnya tidak bertentangan dengan Alquran dan hadis (meskipun tidak termaktub dalam Alquran dan hadis). Sedangkan bid'ah yang buruk yaitu bidah yang spiritnya bertentangan dengan Alquran dan hadis (dan tentu saja tidak termaktub dalam Alquran dan hadis). Di antara contoh bid'ah yang dilakukan oleh para sahabat yaitu: melakukan sholat tarawih berjamaah, memberikan titik pada huruf Alquran, mengumpulkan Alquran dalam satu mushaf (dan memusnahkan mushaf-mushaf Alquran lainnya)... Juga ada landasan hadisnya: من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجره وأجر من عمل بها (barangsiapa menciptakan tradisi yang baik, maka baginya balasan baik beserta orang-orang yang mengikutinya dst.......)

Memang ada beberapa hadis yang seolah-olah memberikan makna, bahwa seluruh bid'ah adalah sesat. Akan tetapi, cara memberi makna hadis-hadis itu tidak demikian. Dalam memahami nas (Alquran dan hadis) ada istilah muqayyad dan mutlak. Satu ayat atau hadis tidak bisa dipahami dengan ayat atau hadis itu sendiri. Melainkan harus disandingkan dengan ayat atau hadis-hadis lain yang berhubungan dengan hal tersebut.

Kelanjutan hadis yang saya sebutkan diatas:
........من سن في الإسلامسنة سيئة فله أجره وأجر من عمل بها....... (Barangsiapa membuat tradisi buruk di dlam Islam, maka ia akan mendapatkan balasan (buruk) dari perbuatannya dan perbuatan orang-orang yang mengikutinya). Artinya, menciptakan hal baru yang buruk (bid'ah sayyi'ah), berbeda dengan menciptakan hal baru yang baik (bid'ah hasanah).

Dalam Alquran juga disebutkan:
.... وافعلوا الخير لعلكم تفلحون..... (lakukanlah kebaikan semoga kalian beruntung). Kebaikan itu banyak, dan tidak terbatas yang disebutkan dalam Alquran dan hadis bukan? Artinya: lakukanlah hal-hal baik baik yang termaktub dalam Alquran dan hadis, maupun yang tidak termaktub (bid'ah hasanah).

Dengan demikian, maka kemutlkan hadis-hadis yang saudara sebutkan dengan semua bid'ah tersebut dibatasi (muqayyad) oleh ayat Alquran dan hadis Nabi lainnya. Bahwa, yang tidak disebutkan dalam Alquran dan hadis, tidak mesti termasuk amal buruk (sayyiah), di antara hal-hal baru tersebut ada yang baik (hasanah).

Maka, pengertian hadis-hadis yang saudara sebutkan tersebut maknanya dibatasi (muqayyad) menjadi "semua bid'ah yang buruk adalah sesat..."

Bahkan praktek bid'ah sebenarnya sudah disampaikan langsung kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk "ijtihad". Saat Rasulullah SAW mengutus salah seorang sahabat untuk menjadi Qadhi di daerah yang jauh. Rasulullah bertanya bagaimana kamu akan memutus perkara? Sahabat itu menjawab: Saya akan mencari dasarnya dalam Kitabullah. Lalu ditanya oleh Rasulullah: Bagaimana jika kamu tidak menemukannya? Lalu dijawab: Saya akan mencari dalam sunnah Nabiku. Lalu ditanya: bagaimana jika kamu tidak menemukannya? dijawab: saya akan berijtihad dengan diriku sendiri. Lalu Rasulullah SAW pun memujinya.

Artinya: tidak semua hal (jenis-jenis kebaikan dan keburukan)terhadap suatu perkara disebutkan dalam Alquran dan hadis secara jelas. Jika semua hal-hal yang tidak ditemukan dalam Alquran dan hadis disebut bid'ah, maka sahabat tersebut juga menawarkan bid'ah kepada Rasulullah bukan?

Hanya saja, tentu sahabat tersebut berijtihad dengan menyiapkan "landasan" di dalam Alquran dan hadis (meskipun tidak termaktub, tapi selaras dan tentu saja tidak bertentangan). Hal-hal seperti itu jika kemudian diamalkan dan menjadi tradisi, maka disebut sebagai "bid'ah hasanah".

Pertama gak masalah mengenai hadisnya ditulis lengkap. Ini saya tuliskan dalam redaksi riwayat Imam Muslim:
حدثني زهير بن حرب حدثنا جرير بن عبدالحميد عن الأعمش عن موسى بن عبدالله بن يزيد وأبي الضحى عن عبدالرحمن بن هلال العبسي عن جرير بن عبدالله قال: جاء ناس من الأعراب إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم عليهم الصوف فرأى سوء حالهم قد أصابتهم حاجة فحث الناس على الصدقة فأبطؤا عنه حتى رؤي ذلك في وجهه. قال ثم إن رجلا من الأنصار جاء بصرة من ورق ثم جاء آخر ثم تتابعوا حتى عرف السرور في وجهه فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم من سن في الإسلام سنة حسنة فعمل بها بعده كتب له مثل أجر من عمل بها ولا ينقص من أجورهم شيء ومن سن في الإسلام سنة سيئة فعمل بها بعده كتب عليه مثل وزر من عمل بها ولا ينقص من أوزارهم شيء

Kedua: Matan hadis tersebut terdiri dari dua bagian, yaitu: asbabul wurud hadis dan sabda Rasulullah SAW.

Dalam asbabul wurud dikisahkan Rasulullah SAW menganjurkan kepada sekelompok orang agar bersedekah untuk sekelompok badui yang memerlukan pertolongan, tetapi terkesan lambat merespon anjuran Rasulullah tersebut (bukan "perintah untuk memberikan contoh baik di kalangan islam").

Lalu tiba-tiba, datang seorang lelaki dari kaum anshor membawa bungkusan dari rumahnya diberikan kepada Orang-orang Badui tersebut. Lalu, datang orang berikutnya, sehingga berturut-turut dan Rasulullah tampak gembira lalu bersabda:

"Barangsiapa membuat "jalan/cara/metode/perilaku" yang baik (umum/bukan hanya sedekah), lalu diikuti oleh orang setelahnya (men-tradisi), maka dicatat baginya pahala orang yang mengikutinya tersebut, tanpa mengurangi pahala mereka. Dan sebaliknya, barangsiapa membuat "jalan/cara/metode/perilaku" yang buruk (umum, bukan hanya menahan diri dari sedekah), maka dicatat baginya dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa harus mengurangi dosa-dosa mereka"...
Ketiga: Kenapa hadis tersebut bersifat umum? tidak khusus sedekah?

1. Lihat redaksi matan hadis. asbabul wurudnya memang khusus, tapi kemudian Rasulullah melanjutkan dengan "pernyataan yang jelas" secara umum (segala hal baik dan segala hal buruk/tidak menyatakan khusus sedekah).

2. Secara bahasa, "sunnatan hasanatan" berbentuk nakirah. Dalam bahasa artinya "meliputi" segala kategori di dalamnya alias umum. Juga kata "sunnatan sayyiatan" berbentuk nakirah. Dalam bahasa artinya "meliputi" segala kategori di dalamnya alias umum. Artinya: segala hal baik dan segala hal buruk...

Keempat: Ini penjelasan imam nawawi dalam syarah muslim:

من سن في الاسلام سنة حسنة فله أجرها ) إلى آخره فيه الحث على الابتداء بالخيرات وسن السنن الحسنات والتحذير من اختراع الاباطيل والمستقبحات وسبب هذا الكلام في هذا الحديث أنه قال في أوله فجاء رجل بصرة كادت كفه تعجز عنها فتتابع الناس وكان الفضل العظيم للبادى بهذا الخير والفاتح لباب هذا الاحسان وفي هذا الحديث تخصيص قوله صلى الله عليه و سلم كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وأن المراد به المحدثات الباطلة والبدع المذمومة وقد سبق بيان هذا في كتاب صلاة الجمعة وذكرنا هناك أن البدع خمسة أقسام واجبة

Inti penjelasan Imam Nawawi di atas adalah sebagai berikut.

1. Hadis tersebut berisi anjuran untuk memulai segala kebaikan dan menciptakan segala tradisi yang baik, sekaligus berisi larangan menciptakan segala kebatilan.

2. Hadis ini mengandung "takhsis" (pembatas keumuman) hadis: "segala hal baru adalah bid'ah dan segala bid'ah adalah sesat". Maksud hadis tersebut adalah segala hal baru "Yang batil" dan bid'ah "Yang Tercela" adalah sesat.
Kelima: Bahkan di atas sudah saya sebutkan penjelasan bid'ah menjadi dua: bid'ah hasanah dan bid'ah sayyiah dilakukan oleh imam syafi'i.

Bagikan artikel ini

1 comment

  1. Kalao gitu buat Qur'an yg baru aja selama itu hasanah,,,

    ReplyDelete