Tawadhu Sebagai Sifat Sang Ibadurrahman - KMNU-UNILA.Org : Menebar Dakwah Ahlussunnah Annahdliyah

Monday, May 8, 2017

Tawadhu Sebagai Sifat Sang Ibadurrahman


Oleh : Adam Rouf Hidayat

Rendah hati dalam wacana Islam sering juga disebut Rdengan tawadhu'. Tawadhu' termasuk salah satu sifat terpuji yang harus dimilki oleh seorang muslim. Tawadhu' secara bahasa dapat dimaknai dengan 'merendahkan hati'. Artinya secara sengaja memposisikan diri lebih rendah dari posisi sebenarnya. Pada dasarnya tawadhu' hanya ditujukan kepada Allah SWT Yang Maha Agung dengan merasa lemah dan tidak berdaya dibanding dengan kekuasaan-Nya. Apalah kuasa manusia sampai berani mengharap surganya Allah SWT? Apakah Allah SWT rela memberikan surga kepada seorang hamba, jika hamba tersebut merasa tidak memerlukan surga?

Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa tujuan tawadhu' sebenarnya adalah mengharapkan surga (ridha-Nya) Allah SWT dan menghindarkan diri dari api neraka.Meskipun tawadhu' ditujukan kepada Allah SWT sebagai bukti adanya hubungan vertikal, akan tetapi tawadhu' juga harus dibuktikan dalam praktek keseharian ketika bermuamalah dalam hubungan horizontal antar sesama manusia. Sebagaimana diterangkan dalam Surah al-Furqan ayat 63:“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”

Ayat di atas menggambarkan bahwa di antara tanda-tanda orang yang memiliki sifat tawadhu' adalah selalu berjalan dengan menundukkan kepala. Seolah-olah tidak pernah melihat langit. Berjalan dengan santai tanpa membusungkan dada. Meskipun ia memiliki kuasa sebagai gubernur, jendral ataupun ulama misalnya. Hal ini berbeda dengan orang-orang yang sombong yang berjalan dengan mendongak ke atas tidak pernah melihat bumi.Begitu spesialnya seseorang yang memiliki sifat tawadhu', sehingga Allah SWT mengistimewakan mereka yang memiliki sifat tawadhu' tersebut dengan menyebutnya sebagai 'ibadurrahman' (hamba-hamba Allah SWT Yang Maha Penyayang). Hal ini sejalan dengan janji
Allah SWT sebagaimana disampaikan kepada Rasulullah SAW dalam haditsnya.“Allah SWT akan mengangkat derajat mereka yang memiliki sifat tawadhu', dan akan membenamkan mereka yang bersifat sombong.”Lalu apakah sebenarnya pentingnya tawadhu'? selain mengharapkan derajat dari Allah SWT, tawadhu' juga menghindarkan diri kita dari sifat yang paling dibenci Allah SWT Yang Maha Kuasa yaitu sombong. Karena kesombongan akan menimpa mereka yang tidak memiliki ketawadhu'an.

Padahal sejatinya kesombongan itu hanya pantas dimiliki-Nya. Oleh karena itu, Allah SWT sangat membenci orang yang sombong. Hal ini terbesit dari hadits qudsi yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.“Sifat sombong itu selendang-Ku, keagungan adalah busana-Ku. Barang siapa yang merebut salah satu dari-Ku, akan Ku lempar ia ke neraka. Dan Aku tidak peduli.”Artinya, kesombongan dan keagungan itu hanya khusus milik Allah SWT. Allah SWT sungguh tidak terima bila ada hamba yang memiliki sifat keduanya . Begitu tersinggungnya Allah SWT hingga Ia akan melempar siapapun yang 'menggunakan' kedua sifat itu ke neraka tanpa peduli. Tanpa peduli apapun status orang tersebut ketika di dunia.Oleh karena itu, guna mempermudah diri melatih menuju ketawadhu'an kepada Allah SWT hendaknya seorang hamba harus mengakui dan memiliki beberapa sikap diri.

Pertama, merasa hina dan meyakini bahwa yang mulia hanyalah Allah SWT. Seorang hamba harus segera sadar bahwa ia seorang yang hina. Ia hanyalah berasal dari setetes air mani, yang jikalau Allah SWT menghendaki bisa saja mani itu tumpah dan menjadi konsumsi semut dan lalat.

Kedua , merasa faqir dan selalu membutuhkan Allah SWT Yang Maha Kaya Raya. Sekarang para hartawan dan miliuner boleh merasa bangga atas kejayaan dan mengandalkan segala macam harta yang dimilikinya. Akan tetapi, Allah SWT sudah mengingatkan dalam firmannya,“Sesungguhnya semua harta itu adalah hartaKu, orang-orang faqir itu keluargaKu, dan para hartawan adalah wakilku. Barang siapa yang berlaku pelit terhadap keluargaKu. Aku akan menyiksanya tanpa peduli.”

Ketiga, merasa bahwa dirinya adalah orang yang bodoh dan Allah SWT Yang Maha Mengetahui. Seringkali para hamba yang dianugerahi ilmu oleh Allah SWT melupakan bahwasannya ilmu itu hanya sekedar titipan Allah SWT yang dapat diambil kapanpun. Lihatlah ketika seorang profesor, doktor, cendekia tetapi terkena stoke apa yang dapat ia lakukan?

Keempat, merasa lemah dan hanya Allah SWT Yang Maha Kuat.Sebagai pelajaran betapa banyak legenda tentang kejayaan para raja yang berkuasa begitu hebatnya, tetapi sekarang hanya tinggal dalam kenangan dan catatan sejarah saja. Bukankah kekuatan negara adidaya di dunia juga selalu silih berganti?Adapun gambaran praktek tawadhu' kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari, pesan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani kepada muridnya berikut bisa kita jadikan sebagai sebuah pegangan.“Jikalau kamu berjumpa dengan seseorang maka hendaklah engkau melihat keunggulannya dibanding denganmu. Dan katakanlah (dalam hati) bahwa orang itu lebih baik dari pada aku di mata Allah SWT. Maka apabila (kamu berjumpa) dengan anak kecil, hendaklah berkata (dalam hati) dia ini belum terlalu banyak maksiat (karena umurnya lebih muda) dan otomatis dia lebih baik dari pada aku. Dan apabila (kamu berjumpa) dengan orang tua, hendaklah berkata orang ini telah lama beribadah kepada Allah SWT sebelum aku (karena umurnya lebih tua), maka dia lebih baik dari pada aku. Apabila (kamu berjumpa) dengan seorang yang 'alim, hendaklah berkata (dalam hati) dia telah diberi sesuatu (pengetahuan) yang aku belum memilikinya dan dia telah memperoleh sesuatu yang aku belum peroleh dan dia juga telah mengerti apa yang aku tidak mengerti. Dia beramal dengan ilmunya (pastilah lebih diterima amalnya dari padaku). Apabila (kamu berjumpa) dengan seorang yang bodoh, hendaklah berkata (dalam hati) dia maksiat karena kebodohannya, sedangkan aku melakukan maksiat dengan ilmuku. Sungguh aku tidak tahu apakah aku lebih baik dari pada dia.”

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda