Kisah Asal Usul Syekh Siti Jenar - KMNU-UNILA.Org : Menebar Dakwah Ahlussunnah Annahdliyah

Wednesday, September 27, 2017

Kisah Asal Usul Syekh Siti Jenar



Oleh : Hesta Anggia Sari
 
Syaikh Siti Jenar adalah putra Syaikh Datuk Sholeh, seorang ulama asal Malaka. Syaikh Siti Jenar dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang memiliki pandangan-pandangan kontrovesial di zamannya. Beliau dikenal sebagai penyebar ajaran Sasahidan yang berpijak pada konsep manunggaling kawulo-Gusti, juga sebagai penggagas gagasan komunitas baru melalui pembukaan hunian baru yang disebut Lemah Abang, selanjutnya berkembang menjadi varian abangan.

Berbeda dengan makam Wali Songo, yang jelas letak bangunan serta kisah-kisah yang melingkarinya, keberadaan makam Syaikh Siti Jenar belum bisa dipastikan secara tepat. Penduduk Jepara meyakini bahwa makam Beliau terletak di desa Lemah Abang, Jepara. Penduduk Mantingan meyakini bahwa makam Syaikh Siti Jenar terletak di daerah mereka. Sedangkan menurut sumber cerita tutur penganut Tarekat Akmaliyah, makam Sayikh Siti Jenar dinyatakan hilang, sesuai wasiat Beliau yang menyatakan agar kuburnya kelak tak diberi tanda.

Menurut Babad Demak dan Babad Tanah Jawi, asal-usul Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Siti Jenar, berasal dari seekor cacing yang berubah menjadi manusia setelah mendengar wejangan rahasia Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga di atas perahu di tengah laut. Sedangkan menurut para penganut Tarekat Akmaliyahm Syaikh Siti Jenar adalah putra Ratu Cirebon yang ditugaskan menyiarkan agama Islam di tanah Jawa.

Syaikh Siti Jenar, menurut naskah Negara Kretabhumi Sargha III pupuh 77, beliau pernah menuntut ilmu di Persia dan menetap di Baghdad, berguru kepada Abdul Malik al-Baghdadi, dengan memperdalam ilmu tasawuf. Ajaran Syaikh Siti Jenar di Jawa, yang dikenal dengan sebutan Manunggaling kawula-Gusti, seperti yang dinukil dari Serat Seh Siti Djenar (1917), menanamkan suatu pemahaman bahwa semua makhluk di dunia pada hakikatnya adalah sama di hadapan Allah. Setelah pulang menuntut ilmu dari Baghdad, Syaikh Siti Jenar pergi ke Malaka dan mengajarkan ilmu agamanya hingga dikenal dengan gelar Syaikh Datuk Abdul Jalil serta Syaikh Datuk Jabalrantas. Ia menikah dengan seorang keturunan Gujarat, memiliki putra bernama Ki Datuk Pardun dan Ki Datuk Bardud.

Kern (1996) yang mengutip dari Pararaton menjelaskan masuknya Syaikh Siti Jenar menjadi anggota Wali Songo berhubungan dengan kisah Syaikh Melaya (Syaikh Malaya; salah satu gelar Sunan Kalijaga), yang berkaitan dengan Syaikh Dara Putih, yang berasal Dari Pulau Upih Malaka. Berawal dari sebuah kisah bahwa para wali bersama-sama akan mendapat bagian dari buah semangka yang di iris menjadi sembilan, namun yang datang hanya delapan, sehingga kelebihan satu bagian. Kemudian Syaikh Dara Putih memerintahkan muridnya untuk keluar mencari seorang lagi untuk menjadi wali. Dikisahkan bahwa Sunan Kalijaga keluar, dan mendapati Syaikh Siti Jenar berada di luar. Syaikh Dara Putih kemudian menerima Syaikh Siti Jenar menjadi bagian dari jamaah wali.

Menurut naskah Nagara Kretabhumi, dakwah Syaikh Siti Jenar yang berkembang sangat cepat telah membuat Sultan Demak (Trenggana) marah, terutama karena Syaikh Siti Jenar telah mendukung muridnya, Ki Kebo Kenongo, mendirikan kerajaan di Pengging. Setelah melalui perjalanan panjang, pada akhirnya, Sultan Demak mengutus Sunan Kudus untuk menemui Ki Kebo Kenongo di Pengging, yang pada saat itu telah memeluk islam dan menggantikan ayahandanya. Keduanya beradu argumen tentang kebenaran ilmu masing-masing. Karena tidak ada jalan keluar dan mengemban titah dari Sultan Demak, maka Ki Ageng Pengging pun dibunuh oleh Sunan Kudus dengan menggoreskan kerisnya ke Siku Ki Ageng Pengging.

Setelah penumpasan kekuatan Ki Ageng Pengging, rupanya Syaikh Siti Jenar pun diburu dan dijatuhi hukuman mati, dengan tuduhan telah mengajarkan ajaran sesat Sasahidan, yaitu manunggaling kawula gusti, dan mengaku dirinya sebagai Allah. 

Kontroversi tentang bagaimana Syaikh Siti Jenar dibunuh, sampai saat ini masih belum jelas, karena masing-masing sumber menyatakan hal yang berbeda satu sama lain. Historiografi Cirebon menunjuk bahwa Syaikh Siti Jenar diadili dan dihukum bunuh di Masjid Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan. Setelah dikubur di area pemakaman Anggaraksa, kuburnya dibongkar dan diganti anjing, tetapi mayatnya berubah menajdi sekuntum melati, sehingga area makam tersebut disebut Pamlaten. Historiografi Jawa Tengah menuturkan bahwa Syaikh diadili di Demak dan dieksekusi di masjid tersebut. Mayatnya juga dikisahkan diganti dengan bangkai anjing. 

Berbagai kontroversi tentang bagaimana Syaikh Siti Jenar dieksekusi dan disemayamkan, menjadikan letak kubur salah satu tokoh Wali Songo ini tidak diketahui seara pasti. Sebagian mengatakan di Cirebon, sebgaian lagi di Mantingan, Jepara, dan Tuban. Manakah di antara makam-makam tersebut yang benar? Wallahu’alam bish-showab.

(Disadur dari “Atlas Wali Songo”. Agus Sunyoto, 2016: 314-332)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda