KMNU-UNILA.Org : Menebar Dakwah Ahlussunnah Waljama'ah Annahdliyah: Humor
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juni 2023

Revolusi Kopi, Santri, dan KMNU

 Revolusi Kopi, Santri, dan KMNU 

Tahukah kita  bahwa telah terjadi banyak revolusi  di dunia ini dan salah satu revolusi terbesar dalam sejarah  manusia adalah Revolusi Prancis. Dimana monarki Prancis kemudian memerintah, kekaisaran Prancis yang dipimpin oleh Raja Louis XIV dan Raja Louis XV harus diatur oleh revolusi, dimana para pekerja, dan petani bersatu untuk menggulingkan apa yang mereka yakini sebagai monarki dan menyebabkan penderitaan besar bagi orang-orang. Jadi bisa dikatakan Revolusi Perancis  tidak akan  terjadi tanpa kedai kopi yang menjadi latar belakang terjadinya revolusi.


Warung kopi sudah tidak asing lagi bagi orang Perancis, khususnya di kota Paris. Hingga suatu hari Francesco Procopio Dei Coltelli yang hijrah dari Italia ke Prancis membuka sebuah kafe di Paris bernama Le Procope. Procopius menjadi tempat pertukaran ilmu hingga dikenal sebagai tempat pencerahan karena para cendekiawan berkumpul di sini. Beberapa seniman dan cendekiawan Paris seperti JJ Rousseau, Diderot, Voltaire dan Pirot menjadi pelanggan setianya. Diskusi Le Procopé semakin intensif ketika mereka mulai berbicara tentang pembagian kekuasaan di negara tersebut. Ini terkait dengan peristiwa di Paris orang mulai mengkritik kekuasaan absolut raja.

Di negara dengan prinsip demokrasi seperti itu, setiap orang selalu memiliki kepentingannya masing-masing, baik individu maupun kelompok. Mereka semua bebas mengekspresikan kepentingan tersebut. Misalnya, penting bagi  seniman untuk memiliki kejelasan hukum tentang hak cipta, dan bagi  penganut adat harus dijamin kebebasan beragama. Jutaan kepentingan di setiap kelompok bisa saling bertentangan. Menerjemahkan keprihatinan ini ke dalam peraturan yang berlaku nasional, di sinilah peran politik sangat dibutuhkan.

Sejak itu, kedai kopi  tersebar di jalanan Paris. Orang yang terbiasa minum alkohol sangat terkejut dengan efek kopi pada tubuhnya. Biasanya mereka menggunakan alkohol setelah bekerja untuk bersantai dan menghilangkan stres. Setelah bekerja, mereka pergi ke  bar dan minum lalu tertidur. Pertemuan-pertemuan ini, yang berkisar dari kafe hingga kelas sosial, borjuasi, pekerja, dan bahkan petani, inilah yang menandai Revolusi Prancis.

Kafe merupakan tempat untuk bertukar berbagai informasi. Perdebatan yang sedang berlangsung menjadi lebih serius setiap hari dan mendorong mereka untuk melakukan tindakan. Pada abad ke-18, pembahasan di sana mulai intensif karena menyangkut pemisahan kekuasaan dalam negara. Kaum borjuis (penguasa) memperkuat kekuasaannya dengan menciptakan sistem republik, sebuah negara modern tanpa kekuasaan kaum feodal. Sayangnya perubahan yang terjadi tidak membuat kaum pekerja di prancis jadi semakin membaik. Revolusi yang terjadi di perancis mengguncang negara-negara lain di eropa. Di inggris sempat terjadi pemberhentian perdagangan kopi dari luar inggris dan menggantikannya dengan teh, sejak saat itulah kebiasaan minum teh mulai mulai terjadi di inggris.

Santri dan KMNU

Di dalam Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama' kerap atau sudah menjadi budayanya untuk memanggil sesama dengan istilah mas dan mba. Hal ini menjadi identitas tersendiri dalam setiap kali kegiatan yang berlangsung.

Panggilan ini dapat menghasilkan sebuah hubungan kekeluargaan  erat dan harmonis sehingga sering terdapat perkumpulan hangat yang selalu tidak lupa terdapat minuman kopi sebagai penghangat didalamnya. Kopi menjadi sebuah hal wagu (tidak wajar) ketika dalam sebuah obrolan atau diskusi tidak ada didalamnya. Ingin rapat bilang “Info Ngopi, mas mba”, ingin pertemuan bilang “Info Ngopi, mas mba”, "kopi mana kopi". Sebenarnya antara kopi, santri, dan KMNU tidak dapat dipisahkan karena sejatinya seluruh anggota KMNU adalah seorang santri yang sedang menimba ilmu dalam madrasah yang besar yakni Nahdlatul Ulama' serta istilah kopi umum digunakan dan dimanfaatkan sebagai minuman penghangat bagi para santri-santri di pondok pesantren. Hal ini karena kopi disinyalir dapat memberikan energi positif dan dapat menambah rasa semangat setiap kali para santri akan mengaji. Oleh karena itu, kopi menjadi bagian yang sangat berpengaruh bagi para santri-santri yang saat ini sedang menimba ilmu intelektualnya di madrasah besar bernama Nahdlatul Ulama' melalui wadah yang bernama KMNU.

Lalu jika terdapat info ngopi namun setelah  diberi kopi malah memesan es teh, apakah dia salah satu dari komplotan pemerintah Inggris pada zaman itu? Saya pun sebagai penulis  belum mengulik jauh lagi tentang hal itu?

Bagaimana menurut mas mba semua kader KMNU tercinta? Berikan pendapatnya hehe

Salam hangat bak kopi yang siap saji


(Mas Hafidz)

Jumat, 22 Februari 2019

Guyonan Khas wong NU



Pada berbagai kesempatan, ketua umum PBNU selalu mengampanyekan paham Islam moderat yang berdasarkan konsep rahmatan lil alamin. Tidak saja ke berbagai wilayah Indonesia, penyebarluasan paham itu juga dia lakukan di negara-negara di Asia Tenggara, sejumlah negara Islam di Timur Tengah, Amerika Serikat, bahkan hingga ke Vatikan. ''Saya pernah diundang Raja Bhumibol Adulyadej untuk mendamaikan pertikaian pemerintah Thailand dan umat Islam di sekitar Pattani, Thailand Selatan. Di sana raja sudah seperti dewa, jadi elek-elek ngene, saya pernah diundang oleh dewa.'' <> 

Mantan Ketua PWNU Jatim ini jeda bicara sesaat, saat hadirin tertawa mendengar selorohnya, ia mengatakan, ''Saya heran kenapa diundang untuk mendamaikan pertikaian di negeri orang. Di NU sendiri, gegeran gak uwis-uwis.'' Tak lupa, dia juga bercerita tentang Konferensi Islam Internasional (International Conference of Islamic Scholars/ICIS). 

Konferensi yang diprakarsai NU itu digelar kali pertama pada akhir 2004 dengan menghadirkan pemuka-pemuka Islam dari berbagai belahan dunia. Pertemuan untuk menyebarkan paham rahmat bagi seluruh alam itu memperoleh respons positif dari berbagai negara. ''Kalau rezeki NU mencukupi, insya Allah akan digelar lagi pada 2006 mendatang. Itu bisa terwujud, jika Sampeyan semua mengirim SMS...'' 

Mendengar guyonan itu, nyaris ulama yang hadir tertawa sembari bertepuk tangan. Lo, apa hubungan ICIS dengan SMS? Beberapa saat sebelum cak Hasyim menyampaikan taushiyah, salah seorang Ketua PBNU H Rozy Munir memperkenalkan SMS Infak yang merupakan hasil kerja sama dengan operator seluler Telkomsel, Pro-XL, dan Indosat. Lewat program itu, setiap nahdliyyin di mana pun berada, bisa berinfak Rp 5.000 atau Rp 10.000 ke Nahdlatul Ulama lewat SMS. ''Wis keplok kenceng-kenceng, durung mesthi kirim infak. Masiya didalili, ya ngerti dalile, tapi metu dhuwike tetep uangel (Sudah bertepuk tangan keras-keras, belum tentu mengirimkan SMS infak. Walaupun sudah diberi dalil, sudah tahu dalilnya, tapi uangnya tetap tidak keluar--Red),'' imbuh Pak Hasyim yang lagi-lagi disambut tawa hadirin. (Achiar M Permana, Jamal Al Ashari) 

 Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/7836/guyonan-khas-wong-nu

Senin, 19 Februari 2018

Ketika Gus Dur Ditanya tentang Hantu oleh Anak 14 Tahun



Ketua Umum PBNU 1984-2000 dan Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memiliki hubungan luas dengan berbagai kalangan. Tidak hanya setelah ia populer, tapi sejak masa mudanya.  Ia bersilaturahim dengan rakyat hingga pejabat, kiai dan santri, Muslim dan non-Muslim, bahkan dengan yang tak beragama sekali pun.   

Ia bertemu dengan berbagai macam profesi, aktivitas, beragam latar belakang suku, bermacam budaya, baik dalam dan luar negeri. Bahkan dengan orang meninggal, yakni di kuburan. Dan, tak pandang umur, orang tua maupun anak-anak.  Suatu ketika, salah seorang teman Gus Dur, yakni Greg Barton, seorang profesor  di Universitas Monash, Australia, menengok Gus Dur di rumah sakit.   Penulis biografi Gus Dur itu membawa anaknya yang berusia 14 tahun. 


Hana, namanya. Dalam pertemuan itu, tanpa diduga, anak sang profesor bertanya. “Gus Dur apakah hantu itu ada?”  “Kalau hantu dan makhluk-makhluk gaib, sebenarnya saya kurang tahu. Tapi saya punya cerita sedikit yang merupakan sebagian jawaban,” katanya.   Gus Dur pun bercerita, pada waktu muda, saat ia di Jombang, tepatnya di Pondok Pesantren Tebuireng, memiliki kebiasaan pergi ziarah dan berdoa di kuburan.   Suatu ketika, di makam Tebuireng, ia berziarah ke makam itu. Ia datang sekitar pukul 01.00. Namun, tak lama kemudian, ia tertidur. Sekitar dua jam berlalu, kemudian Gus Dur terbangun karena ada suara orang yang sepertinya hendak berziarah pula seperti dirinya. Kemudian Gus Dur berdiri menengok orang tersebut.  Orang yang baru datang itu terbelalak dan terkaget-kaget, berteriak, lalu berlari terbirit-birit.  “Saya tidak tahu apakah hantu itu ada atau tidak, tapi kalau bertanya kepada orang itu (orang yang berlari tersebut), pasti menjawab ada,” kata Gus Dur kepada Hana.    Penulis Abdullah Alawi Editor: Fathoni Ahmad   Sumber: Channel YouTube AA Santri Kyai

Selasa, 29 Januari 2013

Tak Mau Dipoligami

Tak Mau Dipoligami

Ada saja kelakar yang diselipkan Gus Karim (Solo) dalam setiap ceramahnya. Contohnya ketika ia bercerita tentang wasiat seorang istri kepada suaminya ketika ia tengah sekarat.

Sang istri yang tergolek lemah badannya memanggil lirih nama suaminya.

“Kelihatannya. ia akan membisikkan sesuatu,” pikir suaminya. Bergegas ia kemudian mendekat kepada sang istri.

tasawuf

Puisi

Humor