Kisah : Seribu Tafsir Mimpi - KMNU-UNILA.Org : Menebar Dakwah Ahlussunnah Annahdliyah

Thursday, May 11, 2017

Kisah : Seribu Tafsir Mimpi



Suatu hari di sebuah hutan rimba, terjadi keributan yang luar biasa. Hal itu disebabkan oleh sabda sang raja rimba yang menyampaikan tentang mimpinya. "Saya telah mendapat pesan dari Tuhan lewat mimpi, bahwa rimba ini akan mencapai puncak kejayaan, syaratnya kita harus menumpas jiwa kerdil yang selama ini menyelimuti rimba ini..!"

Semua binatang yang berkumpul pagi itu diam dalam kegelisahan. Cahaya mentari yang mendermakan kehangatan tak mampu mengusir rasa itu.

Seekor Kera tua lalu maju mengeluarkan pendapat, "Mohon ijin paduka, selama ini saya tidak pernah melihat sesuatu yang menyelimuti rimba ini kecuali kabut. Tapi bagaimana caranya kita bisa menumpas kabut?"

"Mohon maaf paduka,"_sahut Ruba menimpali, "Pasti bukan kabut, karena tadi disebut menumpas jiwa yang kerdil, jadi pasti yang dimaksud adalah makhluk hidup. Mungkin yang dimaksud makhluk yang kecil!".Para binatang yang memiliki ukuran tubuh kecil bergumam. Kata-kata kecil membuat mereka merasa cemas.

"Permisi paduka!" suara Celeng yang terlihat pandai terdengar lantang, _"Saya sudah pernah menyampaikan pada pertemuan sebelumnya mengenai *sistem pertenakan*. Saya setuju bahwa sistem itu sangat tepat diterapkan di rimba yang kita cintai ini. Di pertenakan semua binatang memiliki kandang sendiri. Makan sudah disediakan setiap saat tanpa kita susah payah mencari. Tidak ada binatang yang melayani dan dilayani. Semua hidup adil makmur. Itulah yang dimaksud puncak kejayaan.!"

Beberapa binatang yang sudah pernah mendengar mengenai pertenakan tidak sepakat dengan itu. Gajah berkomentar "Saudara Celeng, di pertenakan itu tidak semua binatang ada. Sangat beda kondisinya dengan rimba kita ini."

"Betul. Lagi pula yang saya dengar di pertenakan itu nanti binatang akan disembelih oleh pemiliknya," Jerapah menambahkan.

"Itu fitnah!" bantah Celeng, "Kalian tahu dari mana? Apa kalian sudah pernah mengalami? Akulah yang lebih tahu!". Kutilang menyahut dari atas dahan, "Paman Celeng, bukankah paman dulu kabur dari pertenakan? Kalau memang sistem itu bagus, kenapa paman tidak tinggal saja di pertenakan!".

"Benar!! Iya kenapa???"_burung-burung bersahutan mendukung kutilang.Ular pun tergoda untuk nimbrung, "Menurut saya sistem kebun binatang itulah yang lebih baik. Karena tidak ada binatang yang disembelih di situ!"

"Yang jelas di pertenakan dan di kebun binatang jauh lebih baik ketimbang di rimba ini,"pungkas Celeng. Dia memang tidak suka dengan Singa. Dia benci penguasa yang bukan golongannya. "Di pertenakan semua binatang berkedudukan sama. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Tidak ada atasan. Tidak ada bawahan!"

"Setuju!" sahut Ruba dan Ular. Mereka memang bersekongkol.

"Dan sesuai petunjuk dari mimpi paduka, demi kejayaan rimba ini, kita harus menumpas binatang yang kecil. Bukankah begitu perintahnya, saudara-saudara?"Celeng mengarahkan sorot mata tajam kepada Kutilang, seolah-olah memberi pesan bahwa Kutilang adalah binatang pertama yang akan ditumpas. "Hei Kutilang sok tahu, aku datang ke sini itu untuk menularkan kebaikan-kebaikan yang ada di peternakan agar rimba ini mengalami kejayaan!"

"Betul!" sahut Ular cepat, "Binatang-binatang kecil itu ada di mana-mana, jadi mereka itu bisa dikatakan menyelimuti rimba ini! Karena ini perintah Tuhan, maka apapun pengorbanannya harus kita laksanakan!"

"Ini tafsir yang sangat bagus. Ayo, demi kejayaan kita, mari kita tumpas makhluk kecil yang menyelimuti rimba ini! Tunggu apa lagi!!!"

Timbullah konflik. Sebagian bersiap untuk saling memburu dan memangsa. Sebagian berfikir untuk melerai dan mencoba meluruskan maksud mimpi itu. Rasanya ada yang salah. Tapi itu memang terlalu rumit. Perang saudara nyaris terjadi.

"Tunggu!" suara Singa terdengar menggelegar dan meredam kekacauan itu. "Kita harus berhati hati dalam menafsirkan sebuah mimpi. Jangan sampai dilandasi nafsu dan kepentingan pribadi.! Yang justru nantinya akan membawa kehancuran bagi rimba ini!"

Kijang sebagai dewan penasehat raja diam tak berkutik. Kuda dan Banteng sebagai petugas keamanan masih diam menunggu.

"Bukankah pesan dalam mimpi paduka itu sudah jelas. Tunggu apa lagi?" teriak Badak sambil merapat ke Celeng.

"Jika ada yang mencoba menolak itu, berarti tidak menghendaki kejayaan rimba ini. Berarti dia musuh. Maaf, terpaksa kami akan menyingkirkan. Siapapun dia!!" sindir Celeng sambil nyengir tapir.

Mendung hitam menggantung di langit.

Kakek Elang mencoba menafsirkan mimpi sang raja, "Rimba ini akan mencapai puncak kejayaan dengan syarat kita harus menumpas jiwa kerdil yang selama ini menyelimuti. Jiwa kerdil yang harus ditumpas itu bisa artinya kebodohan. Kebodohan yang menyelimuti itu jelas musuh kemajuan.! Jiwa kerdil itu juga bisa berarti perilaku tercela. Ini seperti sifat dengki, suka memfitnah, suka menyebarkan dusta, suka mengadu domba,  ini yang bisa menimbulkan sikap saling curiga dan perpecahan.!"

Semua binatang yang berkumpul di pihak raja senang mendengar pencerahan itu.

Di bagian lain rimba, Celeng pun tengah menegaskan tafsirnya, _"Perintah Tuhan begitu gamblang. Jika kita bunuh binatang-binatang kecil, rimba ini akan mencapai puncak kejayaan. Apa kita mau melawan hukum Tuhan dan menggantinya dengan hukum rimba?"

"Mohon maaf paman Celeng," sahut Badak menanggapi, _"Maaf, tapi apa alasannya sehingga kita harus membunuh binatang kecil?"

"Pertama ini perintah Tuhan. Kita harus yakin bahwa perintahNya pasti benar! Jangan gunakan akal kita untuk mencari-cari alasan!" suara Celeng terdengar lantang, "Saya sudah pernah menyampaikan mengenai sistem pertenakan bukan? Di pertenakan tidak ada kandang untuk binatang kecil seperti belalang, capung, ulat, kumbang. Mereka itu cepat berkembang biak dan hanya menghabiskan makanan. Itulah kenapa mereka harus ditumpas!"

Ular berkomentar, "Tapi saudara Celeng, binatang kecil itu juga ciptaan Tuhan, kenapa Tuhan menyuruh kita membunuh?" Ular sadar bahwa dia juga tidak mungkin tinggal di pertenakan. Itulah kenapa dia mengusulkan sistem kebun binatang. Tapi selama ini dia mendukung Celeng karena memiliki tujuan yang sama, yakni menyingkirkan sang raja rimba.

"Betul. Saya juga berpikir begitu," Badak menambahkan.

"Perintah Tuhan!" jawab Celeng tegas, "Kalian jangan pernah meragukan itu! Apa kalian pikir akal kalian itu lebih hebat? Tuhan yang lebih tahu!"

Angsa menyahut dari atas dahan, "Paman Celeng, kakek Elang bilang yang dimaksud jiwa kerdil itu sebenarnya adalah sifat tercela. Bagaimana menurut paman?"

"Kalau sudah menyangkut perintah Tuhan, kita dengar dan kita laksanakan. Itu ciri-ciri beriman!" Celeng jelas terlihat jengkel menanggapi pertanyaan itu, "Kakek Elang sudah tua dan kurang sehat, jadi akalnya terganggu,  pendapatnya itu jelas ngawur..!"

"Setuju!" sahut Ruba,
"Itu tafsir yang paling ngawur. Elang memang kubu raja, jadi jelas tafsirnya menguntungkan pihak mereka. Demi kejayaan kita, mari kita tumpas makhluk kecil yang menyelimuti rimba ini! Tunggu apa lagi!"

"Jika ada yang mencoba melawan perintah Tuhan, berarti tidak menghendaki kejayaan rimba ini." timpal Celeng, "Berarti dia musuh kita. Kalau mereka mati jangan kita kubur bangkainya. Buang saja ke sungai. Mereka pantas mendapatkan itu!" Pungkas Celeng penuh kebencian sambil nyengir tapir.

Mendung hitam menyelimuti langit.

Celeng semakin optimis bahwa impiannya untuk menguasai rimba akan segera terwujud. Mimpi raja Singa itu merupakan berkah tersendiri bagi koalisinya, dan tentu saja terutama bagi dirinya. Celeng sang konseptor ulung.

Ular Sanca yang pakar tipu muslihat memberi masukan, "Saudara-saudara, mimpi Singa itu memang berkah bagi kita, tapi mengandalkan itu saja belum cukup.! Perang tafsir itu tidak berpengaruh bagi mereka yang pandir.!"

Buaya sebagai ahli menghasut massa menyahut, "Ini menarik, lanjutkan Sanca!"

"Kita harus memecah belah kekuatan mereka!" Jawab Ular.Celeng tersenyum ceriah, "Betul!"ujarnya. _"Kita cari cela-cela yang bisa kita goreng untuk itu..!"_

Rubah dan Badak menyimak lebih serius. Fitnah akhirnya bergentayangan di tengah-tengah masyarakat. Merajalela. Rimba kesesatan. Rimba kebencian. Rimba adu domba.

Dengan penampilan anggun, Buaya mengusai mimbar dan berceramah, "Demi menyelamatkan rimba yang kita cintai ini, kita harus paham siapa musuh-musuh kita. Kita tahu, manusia yang berburu itu selalu menunggang kuda. Berarti Kuda itu pengkianat. Dia jongos manusia yang membunuh anak-anak kita. Kita juga tahu bahwa Kuda itu adalah pengawal raja. Kesimpulannya adalah....!"

Di tempat lain Ruba dengan marah berkhotbah, _"Perintah Tuhan itu begitu gamblang dan terang benderang, rimba ini akan mencapai kejayaan dengan syarat kita tumpas binatang-binatang kecil. Mereka adalah tumbal kejayaan. Tidak ada kejayaan tanpa pengorbanan!!"Mimpi raja itu dipahami secara tekstual. Siapa pun yang tidak setuju dengan tafsir itu akan dicap, "Goblok.! Munafik.! Sesat..! Kafir...!" teriak Ruba dengan suara serak.

Badak si penjilat yang handal dalam menjejakan kaki di kedua belah pihak, berbisik kepada Singa, "Paduka raja, tuan Celeng, Ular, Buaya dan Ruba itu sangat prihatin dengan keadaan rimba kita ini. Mereka binatang yang tulus ikhlas mencari solusi demi rimba ini agar mencapai puncak kejayaan. Tapi ternyata ada penghalang besar dan membahayakan kelangsungan hidup rimba ini yang justru berada dekat dengan anda..!"

"Siapa yang kamu maksud?" tanya Singa.

"Saya tidak mau memfitnah, tapi ini bukan rahasia lagi. Semua rakyat sudah tahu dan banyak yang melapor kepada saya. Karena kepedulian saya kepada tuan dan rimba ini, maka hal ini terpaksa saya sampaikan..!"
Badai fitnah mengamuk hebat, dijejalkan terus-menerus agar menyerupai kebenaran. Kebencian menjadi agama.(***)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda