Puasa Ramadhan sebagai Peningkat Spiritualitas - KMNU-UNILA.Org : Menebar Dakwah Ahlussunnah Annahdliyah

Friday, June 1, 2018

Puasa Ramadhan sebagai Peningkat Spiritualitas



Oleh : Adam Rouf Hidayat

Secara filosofis, puasa sebenarnya bukan merupakan aktifitas yang hanya menahan lapar dan haus serta bersetubuh, tapi puasa memiliki pengaruh terhadap aspek kejiwaan, sosial, dan kesehatan. Secara kejiwaan, puasa dapat memberikan kesabaran, menguatkan kemauan, mengajari dan membantu bagaimana menguasai diri, serta mewujudkan dan membentuk ketakwaan yang kuat dalam diri.

Ada satu ungkapan penuh hikmah tentang puasa:

الصوم بقدر ما يكون تجويعا للبطن فانه يكون غذاء للروح
Artinya, di satu sisi, berpuasa itu mengosongkan perut dari makanan dan minuman, tapi di sisi yang lain, ia memberi makanan spiritual kepada ruh (jiwa).

Jadi, pada saat orang berpuasa, ada proses pengosongan dan pengisian. Saat perut keroncongan karena makanan yang ada sedikit demi sedikit diproses oleh usus untuk diambil sari-sarinya. Saat itu panggilan untuk mengisi perut datang. Saat itu juga ruhani menahan keinginan tersebut. Semakin kencang panggilan itu, semakin kuat pula tahanan dari ruhani untuk tidak memasukkan makanan. Ketika itulah volume keruhanian seorang semakin naik dan terus naik.

Jika masa-masa proses pergulatan ini terlalui, gejolak itu kembali tenang. Ketika itu kantong spiritual sudah siap diisi materi keruhanian. Itulah momentum terbaik untuk diisi dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang sentuhan spitualnya sangat dalam. Ruhani manusia ibarat bejana yang sudah bersih dan siap untuk diisi makanan ruhani yaitu ayat suci Al-Qur’an. Ia juga seperti tanah yang sudah gembur dan siap ditanami bibit tanaman yang unggul dan bermutu. Tadabbur terhadap ayat-ayat Al-Qur’an memerlukan penyiapan ruhani yang matang agar nilai-nilai dan norma yang dibawa Al-Qur’an bisa menancap dan terpatri dalam relung jiwa dengan baik. Itulah salah satu hikmah kenapa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, marilah kita ikuti isyarah dari Allah ini agar kita bisa mengisi waktu bulan Ramadlan ini dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi, para sahabat, dan generasi salaf saleh dan generasi pelanjutnya. Jika kegiatan pada puasa sunnah dilakukan oleh orang per orang, maka pada puasa Ramadhan dilakukan secara massal. Ini mengisyaratkan agar situasi spiritual berjalan secara bersama agar bisa dirasakan oleh masyarakat secara bersama-sama. Dengan demikian, puasa Ramadhan membawa dampak sosial yang luar biasa.
Wallahu a'lam.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda