Hubungan Antara Agama Dan Budaya - KMNU-UNILA.Org : Menebar Dakwah Ahlussunnah Annahdliyah

Wednesday, February 21, 2018

Hubungan Antara Agama Dan Budaya


"Bisa karena biasa," kata peribahasa Kebiasaan yang dilakukan secara konsisten, dan seolah sudah menjadi karakter, bukan tidak bisa berubah. Segala sesuatu mengalami perubahan. Hanya Tuhan yang kekal dan abadi. Selain Tuhan,semua berpotensi mengalami perubahan. Perilaku, baik kognitif, afektif, maupun motorik, akan selalu berubah mengikuti perubahan mindset. Bagaimana mindset itu dibentuk sangat ditentukan pengalaman dan pendidikan. Juga, terkadang prasangka atau perkiraan.

Yang menentukan adalah mindset, bukan mainstream. Terkadang, sesuatu dianggap realitas mutlak dan absolut hanya karena sudah menjadi mainstream. Padahal, mainstream terbentuk semata-mata hanya karena proses indoktrinasi berkelanjutan. Yakni, indoktrinasi yang berusaha memengaruhi mindset, bukan sebagai representasi kebenaran apa adanya.

Termasuk perilaku keberagamaan, juga terpengaruh oleh mindset yang terbentuk berdasarkan pengalaman, pendidikan, dan prasangka. Kitab suci agama bisa satu, tapi penafsiran dan pemahamannya berbeda, sesuai lingkungan dan kondisi sosial. 

Bahkan perbedaan itu bisa berada pada level individu, karena setiap orang memiliki pengalamannya sendiri-sendiri.
Ini lah titik temu dan integrasi agama dan
kebudayaan. Agama, sebagaimana yang tersurat dalam kitab suci, dijabarkan dan diterjemahkan dalam kehidupan nyata memberikan nalar masyarakat itu sendiri. 

Agama memberikan dasar teologis bagi perilaku kebudayaan, menjadi dinamisator agama. Dengan Kebudayaan agama bertahan hidup demikianlah dan membangun peradaban pada umumnya
Faktanya, agama gagal merealisasikan misi peradaban karena tidak memahami temu agama kebudayaan. Bukannya berupaya mendorong proses akulturasi malah memaksakan gerakan purifikasi dan puritanisme. Ada paradigma yang keliru, bahwa suatu penafsiran dan pemahaman dapat ditransfer melampaui zamannya. Paradigma keliru itu dibangun di atas asumsi yang juga keliru: bahwa melalui proses indoktrinasi mindset dapat dibentuk.

Kalau saja manusia tidak mengalami perubahan dan perkembangan dalam pengalamannya barangkali proses indoktrinasi bisa efektif. Tapi kenyataannya, manusia sangat kaya pengalaman baik secara empirik, rasional, maupun spirit. Masing-masing individu memiliki pengalaman empiriknya, pengalaman rasional, dan pengalaman spiritualnya.

Keterbukaan agama pada proses akulturasi memungkinkannya untuk lebih elastis dan fleksibel. Elastisitas dan fleksibilitas merupakan bentuk pilihan yang memungkinkan bertahan lebih lama dibandingkan dengan kebekuan dan kekakuan.

Keragaman agama, sebagaimana keragaman etnisitas suku dan bangsa, juga dipahami dalam satu perspektif kemanusiaan yang hidup berdampingan dengan kekhasannya membangun kehidupan bersama, keunikan-unikan ini bukanlah ancaman terhadap pemeluk agama yang satu terhadap eksistensi agama yang lainnya, tetapi akan lebih memperjelas keunikan sendiri. Agama yang dianut oleh seorang pemeluknya menjadi identitas pribadinya sekaligus cerminan kesucian agamanya.


Dapatlah disimpulkan bahwa budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab suci yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.

Disarikan dari buku Tuhan Maha Asyik karya Sudjiwo Tedjo

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda