Kamis, 04 Desember 2025
Selasa, 25 Februari 2025
Perkuat Keterampilan Kader, KMNU Unila Gelar Pelatihan Administrasi Kesekretariatan
Bandar Lampung - Dalam upaya meningkatkan keterampilan dan kapasitas para kader, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung (Unila) mengadakan pelatihan administrasi kesekretariatan. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Al-Wasi'i Universitas Lampung pada Minggu, 23 Februari 2025.
Kegiatan ini merupakan program kerja yang rutin diselenggarakan untuk memastikan seluruh kader memiliki pemahaman mengenai sistem administrasi dan pengelolaan surat menyurat organisasi yang baku dan tertib. Pelatihan ini menjadi pondasi penting agar KMNU Unila mampu menjalankan roda organisasinya secara profesional.
Ketua Umum KMNU Unila 2025, Son Haji, mengatakan, kegiatan ini sangat vital untuk regenerasi. "Administrasi adalah tulang punggung organisasi. Dengan pelatihan ini, kami ingin setiap kader, khususnya pengurus baru, dapat mengelola setiap kegiatan dan arsip organisasi dengan rapi dan akuntabel," ujar Son Haji.
Sekretaris Umum KMNU Unila 2025, Rahmah Mutiara Ayu Ningtyas, menambahkan fokus pada implementasi praktis. "Kami tidak hanya memberikan teori, tetapi juga simulasi penulisan surat keluar-masuk, penyusunan proposal, dan pembuatan laporan pertanggungjawaban (LPJ). Harapannya, ilmu ini bisa langsung diterapkan oleh teman-teman pengurus agar kerja organisasi menjadi lebih efisien dan terstruktur," jelas Rahmah.
Ia menekankan bahwa penguatan di bidang administrasi merupakan bagian dari komitmen KMNU Unila untuk mencetak kader yang tidak hanya unggul dalam aspek keagamaan dan sosial, tetapi juga terampil dalam aspek manajerial dan kepemimpinan.
Kegiatan ini dihadiri oleh anggota, pengurus, dan MPO KMNU Unila 2025. Kemudian, ditutup dengan tanya-jawab antar pemateri dan peserta serta pembagian bingkisan dan foto bersama.
(Nabila Huznul Fadilah)
Selasa, 04 September 2018
Pengantar Dakwah Kader Muda NU
Sabtu, 07 Juli 2018
Generasi Terkutuk
Orang beriman adalah orang yang sejuk perkataannya, sedang orang berilmu adalah orang yang baik akhlaknya. Karna, buah iman adalah mahabbah (read: cinta), sedang buah ilmu adalah akhlak. Sebagaimana Rosulullah Saw pernah bersabda:
مَنْ لَا اَدَبَ لَهُ لَا عِلْمَ لَهُ
“seorang yang tidak beradab (read: moral), maka (dia) tidak berilmu”
Selama ini, orang islam dikenal bukan saja karna ilmunya, tapi juga karna akhlaknya dan waranya. Dan salah satu ciri orang yang beriman kepada gusti Allah SWT adalah ia yang menerima dengan ikhlas serta murah syukur atas segala ketetapan dan pemberianNYA.
Ada sebuah hikayat masyhur tentang imam Idris (ayahanda imam Syafii rohmatullahi ta'ala), dimana saat berjalan pada bantaran sebuah sungai lalu melihat buah delima mengapung. Lalu beliau mengambilnya dan tanpa sadar menggigitnya satu gigitan.
Setelah itu beliau tersadar dan berkata: “milik siapa buah ini, tanpa sadar aku memakannya tanpa izin pemiliknya.”
Lalu berjalanlah beliau berlawan arus sungai hingga bertemu sebuah kebun delima. Kemudian beliau mencari-cari si pemilik kebun, dan berkatalah ia (imam Idris) pada pemilik kebun: “aku menemukan buah delima yang hanyut di sungai, lalu aku memakannya tanpa seizinmu, bersediakan engkau menghalalkan delima ini (yang aku makan) bagiku.”
Pemilik kebun sadar bahwa ia bukan orang biasa karna wara nya beliau, maka pemilik kebun berkata: “aku akan halalkan dengan syarat engkau bekerja untukku.”
Bertahun tahun imam idris bekerja pada si pemilik kebun, hingga suatu hari imam Idris kembali menanyakan perihal kehalalan delima yang beberapa tahun lalu ia makan tanpa sengaja. Lalu apa jawaban si pemilik kebun?
Aku akan menghalalkannya jika engkau menikahi putriku, dia (putrinya) adalah orang yang buta, bisu dan tuli, sera lumpuh.
Mendengar hal tersebut imam Idris kaget. Kalau misal kita yang berada di posisi itu, pastilah kita menolak. Tapi imam Idris menerimanya dengan ikhlas demi halalnya satu gigitan buah delima.
Setelah mereka dinikahkan lalu dipersilahkan imam Idris memasuki kamar dimana istrinya berada, tapi ia kaget lalu terburu keluar dan menemui ayahnya (yang tadinya si pemilik kebun) lantas ia berkata pada ayahnya: “wahai ayah, aku sudah memasuki kamar itu, tapi tidak kutemui putrimu dengan ciri yang engkau sebutkan.”
“lalu apa yang kau lihat?” tanya ayahnya.
“aku melihat bidadari yang amat cantik jelita dan tanpa cacat”. Jawab imam Idris.
“itulah putriku” jawab sang ayah. “ia buta dari sesuatu yang haram dilihatnya, dia bisu karna tak pernah menggunjing dan berkata yang tidak baik, dia tuli sebab terjaga dari mendengar sesuatu yang haram didengar, dan diapun lumpuh karna dijaga langkahnya dari berjalan pada tempat yang haram didatangi.” Tambahnya.
Pada akhirmya, berbahagialah imam Idris bersama istrinya yang kelak mempunyai anak bernama imam Syafii. Beliau adalah ulama yang sangat masyhur bahkan hingga saat ini. Dan itu adalah buah dari akhlak yang baik, wara serta ikhlas menerima takdir gusti Allah SWT.
Maka, jadilah mukmin yang berakhlak dan tidak mudah menyalahaan, karna sesungguhnya orang berakhlak karna dirinya berilmu.
Jilkalau engkau bertemu dengan orang yang paling bengal dan begitu menyebalkan bagimu, janganlah kau tinggikan suara dengan hujatan atau makian, terlebih sumpah serapah yang menghinakan.
Sumpahi saja dia agar menjadi orang yang paling alim lagi baik akhlaknya. Karena jikalau kutukan kejelekanmu diijabah gusti Allah, maka yang terjadi hanyalah bertambahnya keburukan padanya dan bertambah pula orang yang terganggu karnanya. Tapi jika sumpah baikmu yang diijabah dan dia benar-benar jadi alim lagi baik akhlaknya, maka tak ada lagi yang akan terganggu, malah dia akan jadi manusia yang bermanfaat bagi yang lain. Dan mungkin, engkau turut terpercik ganjaran atas kebaikannya.
(Zada Syauq Seniman NU)
Rabu, 04 Juli 2018
Pencerahan Tentang "Negara Madinah"
Oleh : Tito Gustowo
Negara Madinah, sebuah negara yang didirikan oleh Baginda Nabi Muhammad saw, belakangan ini ada beberapa orang yang tidak memahaminya secara benar, entah karena ketidaktahuannya mengenai Negara tersebut atau karena menutup mata atas sejarah tersebut, yang pasti sedikit pemahaman tentangnya akan coba kami terangkan dibawah ini.
Slogan “Hubbul Wathan Minal Iman” bukanlah slogan yang baru-baru ini muncul karena sebuah gejolak negeri ini, tetapi merupakan sebuah implementasi yang sudah ada sejak negri ini belum merdeka, bahkan secara tidak langsung slogan tersebut telah digunakan oleh Baginda Nabi saw saat memimpin Negara Madinah.
Dalam bukunya, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Periode Klasik (Abad VII-XIII M), Faisal Ismail mengatakan bahwa Piagam Madinah, sekaligus dapat dimaknai sebagai proklamasi secara resmi bahwa Baginda Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya telah mendirikan “Negara” Islam Madinah. Tentu dalam melaksanakan tugas dan fungsi kenegaraan, tugas dan fungsi merealisasikan pemerintahan dan melakukan tata kelola Negara dengan baik dan benar, Baginda Nabi Muhammad saw memerlukan perangkat konstitusi yang disebut Konstitusi Madinah itu. Sesungguhnyalah, dalam pandangan orientalis dan sejarawan, William Montgomery Watt, Muhammad adalah nabi dan negarawan. Hal ini dikemukakan dan diulas secara menarik oleh Montgomery Watt dalam bukunya yang bertajuk “Muhammad: Prophet and Statesmen”. Kita yakin visi Montgomery Watt tentang Baginda Nabi Muhammad saw itu benar, karena dalam realitas dan prakteknya Baginda Nabi Muhammad saw selain membawa dan menyiarkan agama Islam, beliau juga mnemimpin umat, memimpin Negara, mengurusi politik dan pemerintahan, serta memimpin langsung peperangan di banyak medan perang.
Secara factual, tidak dapat diragukan lagi bahwa Baginda Nabi Muhammad saw mempunyai rakyat (umat / komunitas Muslim), wilayah kekuasaan perang (Madinah), kadaulatan Negara (Negara Islam Madinah), dan angkatan perang (pasukan Muslimin) un tuk menjaga wilayah dan kedaulatan Negara Madinah. Dengan demikian Madin ah telah memenuhi syarat dan kriteria untuk disebut sebagai sebuah “Negara”. Baginda Nabi Muhammad saw tidak diragukan lagi b ahwa Beliau adalah nabi dan negarawan yang menjalankan tugas dan fungsi sebagai kepala pemerintahan dan kepala Negara Madinah.
Benar, Al-Qur’an merupakan sumber pertama dan utama Islam tidak memerintahkan umat Islam untuk mendirikan Negara Islam. Ayat atau nash yang memerintahkan umat Islam untuk mendirikan Negara Islam tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Jiak Al-Qur’an tidak secara spesifik dan eksplisit berbicara tentang perintah mendirikan Negara, kita harus merujuk pada Sunnah sebagai sumber kedua doktrin Islam. Sunnah dikatagorikan dalam tiga macam, yakni Sunnah Qouliyah (ucapan), Sunnah fi’liyah (perbuatan), dan Sunnah taqririyah (sikap nabi terhadap sesuatu, jika beliau diam berarti setuju dikerjakan).
Melihat sunnah fi’liyah-nya, Baginda Nabi Muhammad saw secara jelas, gambling, dan terang benderang telah Negara Madinah. Madinah adalah cikal bakal Negara Islam yang menjadi pola dasar untuk dicontoh dan dikembangkan secara kreatif-inovatif sesuai dinamika perkembangan sistem politik, ketatanegaraan dan lingkungan social budaya dimana umat/bangsa Muslim hidup di dunia ini. Negara Madinah adalah “rumah” umat Islam bertempat tinggal, bermasyarakat, berpemerintahan, dan bernegara yang dipimpin oleh Baginda Nabi Muhammad saw sebagai kepala pemerintahan sekaligus sebagai kepala Negara.
Dalam bukunya, Muhammad in Madina, W.M. Watt menyebut Madinah sebagai The Islamic State karena Madinah merupakan sebuah Negara yang—juga menurut W.M. Watt—tata kelola Negara dioperasikan berdasarkan “Konstitusa Madinah”. Karena masalah bentuk Negara, praktik bernegara, dan sistem pemerintahan itu merupakan masalah duniawi dan masalah ijtihadi, maka Islam tidak mengaturnya secara permanen dan serba tetap agar tidak kaku menghadapi dinamika perkembangan masyarakat.
Soal bentu Negara (kesatuan atau federal) dan sistem pemerintahan (khilafah, emirat, kesultanan, kerajaan/monarki, parlementer, presidensial), Islam menyerahkan hal itu kepada umat/bangsa Muslim yang bersangkutan untuk memikirkan dan menetukannya. Yang paling penting, Negara itu didirikan berdasarkan Islam dan tata pemerintahannya harus benar dan adil, menjunjung tinggi asas-asas hukum, HAM, dan demokrasi yang menjadi inti dan saripati ajaran Islam dalam bernegara.
Dilihat dari perspektif hukum tata Negara, isi Piagam Madinah bersifat komprehensif dan memiliki cakupan tujuan yang luas. Sebagai sebuah kesepakatan, piagam ini mengikat semua penduduk atau warga Madinah untuk secara bersama-sama mematuhi dan membina kerukunan, perdamaian, kedamaian kebersamaan. Baginda Nabi Muhammad saw memaksudkan perjanjian ini dengan tujuan utama untuk menciptakan toleransi antar-golongan masyarakat yang ada di Madinah, yaitu antar umat Islam, komunitas Yahudi, dan komunitas Arab non-Muslim. Isi penting Piagam Madinah tersebut adalah sebagai berikut:
- Kebebasan sepenuhnya bagi semua komunitas untuk menganut agama masing-masing
- Hak masing-masing komunitas untuk menyelenggarakan sistem peradilan secara fair dan bebas.
- Semua penduduk Madinah (Muslim, Yahudi, dan Arab non-Muslim) berkewajiban untuk saling membantu baik moral maupun material.
- Semua penduduk Madinah harus Sali ng membantu mempertahankan kota Madinah dari serangan musuh dari luar.
- Baginda Nabi Muhammad saw adalah kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan di Madinah. Kepada beliaulah dibawa perkara dan perselisihan yang besar untuk diselesaikan.
Demikianlah, suatu masyarakat Muslim dan Negara Islam Madinah yang berdasarkan prinsip-prinsip Al-Qur’an dan Sunnah telah dibentuk oleh Baginda Nabi Muhammad saw di Madinah. Beliau sendirilah baik sebagai nabi maupun kepala Negara, memimpin masyarakatnya secara adil, jujur, amanah, disiplin, arif, santun, bijaksana, penuh tanggung jawab, dan memberikan nilai-nilai kebaikan dalam hidup dan kehidupan masyarakat. Masyarakat baru yang dibangun oleh beliau adalah masyarakat madani yang dibangun atas dasar prinsip persamaan, egalitarianism, demokrasi, keadilan social, dan hak-hak asasi manusia.
Masyarakat baru yang dibangun oleh Baginda Nabi Muhammad saw adalah masyarakat madani yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kedaban dan peradaban. Tidak ada hak-hak golongan non-Muslim yang dihambat, apalagi dikurangi atau dikhianati oleh Beliau. Beliau melaksanakan dan menerapkan prinsip keadilan bagi semua warga Madinah, baik Muslim maupun non-Muslim. Pendirian Negara Islam Madinah dan pembentukan masyarakat Muslim di Madinah inilah yang menjadi modal dasar bagi penataan kehidupan keagamaan dan penyiaran Islam dalam masa-masa selanjutnya.
Wallahu a’lam...
Selasa, 06 Maret 2018
Di antara B (Birth) dan D (Death), ada C (Choice)
Oleh : Edamma Fadillah
" Ada sekelompok orang yang merelakan hidupnya hanya terabai dalam lembar sejarah, tapi ada pula yang menoreh prestasi dan kontribusi besar sehingga dunia merasakan kemanfaatannya. "
-Ahmad Rifa'i Rif'an
Ketika kita berusaha memberikan manfaat bagi orang lain saat itu pula kita mampu menunjukkan empati kita terhadap orang lain. Memberikan manfaat tak selamanya berupa materi yang bisa ditunjukkan kasap mata, melainkan melalui nasihat-nasihat sederhana kita pun bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Sering kali kita 'dipaksa' oleh Allah untuk menjadi pengamal pertama dari apa yang kita sampaikan. Jujur, inilah yang senantiasa saya takutkan saat menasihatkan apa pun pada sesama.
Berdasarkan beberapa pengalaman, setiap saya menyarankan satu hal, saya selalu dituntut oleh Allah untuk mengamalkan apa yang saya sarankan. Saya memberikan nasehat tentang kesabaran, Allah kirimkan beragam bentuk masalah untuk menguji kesabaranku. Saya memberikan nasehat tentang kepedulian, pengertian, dan pemahaman, Allah kirimkan sesuatu hal yang menuntutku untuk bersikap peduli, mengerti dan memahami terhadap orang lain.
Tapi, setelah saya pahami inilah tantangannya. Setiap kita berani menasehati orang lain maka Allah memaksa kita untuk jadi pengamal pertamanya. Berikan sebanyak mungkin nasehat kebaikan terhadap sesama, maka Allah akan perbaiki hidupmu sesuai dengan apa yang kau nasehatkan.
Ketika sebuah nasehat kebaikan hanya disampaikan melalui lisan tanpa kita menjalankan maka akan menimbulkan mudharat. Orang Yang menyampaikan kebaikan tapi tak melakukan kebaikan itu akan dilaknat oleh Allah karena kemunafikan yang ada di dadanya. Ketahuilah bahwa kemunafikan adalah ketika lisan dan jiwa saling berseberangan. Ucap dan sikap saling berlawanan.
Kita bisa lihat banyak sekali fenomena seperti itu di lingkungan sekitar. Dia selalu berusaha terlihat baik didepan orang lain, dia sering memberikan nasehat baik kepada orang lain namun itu hanya semata-mata mengharapkan pujian sedang sejatinya ia tak pernah melakukannya.
Tatkala diri ini sudah memilih untuk menjadi penyampai kebenaran, jagalah diri dari pelanggaran terhadapnya. Bisa jadi seucap nasehat malah melemparkan kita menuju laknat. Bisa jadi rangakaian kalimat kebenaran malah membuat jalan dakwah semakin gersang.
Banyak konsekuensi yang harus diterima saat kita memberikan nasehat terhadap orang lain, baik konsekuensi dalam bentuk positif atau negatif. Akan tetapi, jangan jadikan hal itu sebagai alasan untuk mencegah kita untuk memberikan manfaat bagi orang lain melalui bentuk nasehat atau sekedar mengingatkan kebaikan terhadap orang.
" Ahh, aku belum apa-apa, lebih baik aku diam saja "
" Hem, ilmuku belum seberapa belum pantas menasehati orang lain "
" Aku aja belum baik, gimana mau memperbaiki orang lain "
Alasan-alasan seperti itu yang selalu timbul dibenak seseorang saat ia melihat sesamanya sedang melakukan kesalahan ataupun yg lainnya. Hei, seperti yang sudah saya sampaikan di awal bahwa dengan memberikan nasehat justru itu awal dari kita semakin memperbaiki diri kita sendiri. Hanya diam maka tak akan ada kemajuan yang terjadi di hidupmu.
Saat kau mengingatkan temanmu untuk shalat jama'ah dan tepat waktu maka saat itu kau akan berusaha menjalankan shalat lima waktu secara berjama'ah dan tepat waktu. Malu dong kalau tidak melaksanakanya, ngga mau dikira munafik kan ya??? Awalnya mungkin berat tapi lama kelamaan kamu akan terbiasa melakukannya, begitu pun dengan hal baik lainnya.
Mari ubah pola pikir, kita harus baik dulu baru berani menasehati atau mengingatkan orang lain akan kebaikan. Justru kita yang sedang berusaha jadi baik , mengingatkan orang lain dengan hal baik maka secara tidak langsung kita sama-sama berjuang untuk memperbaiki diri.
Hidup memang bermula dengan 'B' (Birth) yaitu kelahiran dan berakhir dengan 'D' (Death) yaitu kematian, dan yang harus senantiasa diingat, bahwa di antara 'B' dan 'D' ada 'C' (Choice) yaitu pilihan. Hidup adalah pilihan. Mau jadi pahlawan atau pecundang. Mau sekedar lewat atau menebar manfaat. Mau jadi winner atau looser. Mau jadi juara atau biasa-biasa saja.
Hidup hanya sekali. Pilih lah hidup yang penuh arti yang penuh kontribusi walau hanya sekedar saling menasehati.
Kamis, 11 Mei 2017
Kisah : Seribu Tafsir Mimpi
Suatu hari di sebuah hutan rimba, terjadi keributan yang luar biasa. Hal itu disebabkan oleh sabda sang raja rimba yang menyampaikan tentang mimpinya. "Saya telah mendapat pesan dari Tuhan lewat mimpi, bahwa rimba ini akan mencapai puncak kejayaan, syaratnya kita harus menumpas jiwa kerdil yang selama ini menyelimuti rimba ini..!"
Semua binatang yang berkumpul pagi itu diam dalam kegelisahan. Cahaya mentari yang mendermakan kehangatan tak mampu mengusir rasa itu.
Seekor Kera tua lalu maju mengeluarkan pendapat, "Mohon ijin paduka, selama ini saya tidak pernah melihat sesuatu yang menyelimuti rimba ini kecuali kabut. Tapi bagaimana caranya kita bisa menumpas kabut?"
"Mohon maaf paduka,"_sahut Ruba menimpali, "Pasti bukan kabut, karena tadi disebut menumpas jiwa yang kerdil, jadi pasti yang dimaksud adalah makhluk hidup. Mungkin yang dimaksud makhluk yang kecil!".Para binatang yang memiliki ukuran tubuh kecil bergumam. Kata-kata kecil membuat mereka merasa cemas.
"Permisi paduka!" suara Celeng yang terlihat pandai terdengar lantang, _"Saya sudah pernah menyampaikan pada pertemuan sebelumnya mengenai *sistem pertenakan*. Saya setuju bahwa sistem itu sangat tepat diterapkan di rimba yang kita cintai ini. Di pertenakan semua binatang memiliki kandang sendiri. Makan sudah disediakan setiap saat tanpa kita susah payah mencari. Tidak ada binatang yang melayani dan dilayani. Semua hidup adil makmur. Itulah yang dimaksud puncak kejayaan.!"
Beberapa binatang yang sudah pernah mendengar mengenai pertenakan tidak sepakat dengan itu. Gajah berkomentar "Saudara Celeng, di pertenakan itu tidak semua binatang ada. Sangat beda kondisinya dengan rimba kita ini."
"Betul. Lagi pula yang saya dengar di pertenakan itu nanti binatang akan disembelih oleh pemiliknya," Jerapah menambahkan.
"Itu fitnah!" bantah Celeng, "Kalian tahu dari mana? Apa kalian sudah pernah mengalami? Akulah yang lebih tahu!". Kutilang menyahut dari atas dahan, "Paman Celeng, bukankah paman dulu kabur dari pertenakan? Kalau memang sistem itu bagus, kenapa paman tidak tinggal saja di pertenakan!".
"Benar!! Iya kenapa???"_burung-burung bersahutan mendukung kutilang.Ular pun tergoda untuk nimbrung, "Menurut saya sistem kebun binatang itulah yang lebih baik. Karena tidak ada binatang yang disembelih di situ!"
"Yang jelas di pertenakan dan di kebun binatang jauh lebih baik ketimbang di rimba ini,"pungkas Celeng. Dia memang tidak suka dengan Singa. Dia benci penguasa yang bukan golongannya. "Di pertenakan semua binatang berkedudukan sama. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Tidak ada atasan. Tidak ada bawahan!"
"Setuju!" sahut Ruba dan Ular. Mereka memang bersekongkol.
"Dan sesuai petunjuk dari mimpi paduka, demi kejayaan rimba ini, kita harus menumpas binatang yang kecil. Bukankah begitu perintahnya, saudara-saudara?"Celeng mengarahkan sorot mata tajam kepada Kutilang, seolah-olah memberi pesan bahwa Kutilang adalah binatang pertama yang akan ditumpas. "Hei Kutilang sok tahu, aku datang ke sini itu untuk menularkan kebaikan-kebaikan yang ada di peternakan agar rimba ini mengalami kejayaan!"
"Betul!" sahut Ular cepat, "Binatang-binatang kecil itu ada di mana-mana, jadi mereka itu bisa dikatakan menyelimuti rimba ini! Karena ini perintah Tuhan, maka apapun pengorbanannya harus kita laksanakan!"
"Ini tafsir yang sangat bagus. Ayo, demi kejayaan kita, mari kita tumpas makhluk kecil yang menyelimuti rimba ini! Tunggu apa lagi!!!"
Timbullah konflik. Sebagian bersiap untuk saling memburu dan memangsa. Sebagian berfikir untuk melerai dan mencoba meluruskan maksud mimpi itu. Rasanya ada yang salah. Tapi itu memang terlalu rumit. Perang saudara nyaris terjadi.
"Tunggu!" suara Singa terdengar menggelegar dan meredam kekacauan itu. "Kita harus berhati hati dalam menafsirkan sebuah mimpi. Jangan sampai dilandasi nafsu dan kepentingan pribadi.! Yang justru nantinya akan membawa kehancuran bagi rimba ini!"
Kijang sebagai dewan penasehat raja diam tak berkutik. Kuda dan Banteng sebagai petugas keamanan masih diam menunggu.
"Bukankah pesan dalam mimpi paduka itu sudah jelas. Tunggu apa lagi?" teriak Badak sambil merapat ke Celeng.
"Jika ada yang mencoba menolak itu, berarti tidak menghendaki kejayaan rimba ini. Berarti dia musuh. Maaf, terpaksa kami akan menyingkirkan. Siapapun dia!!" sindir Celeng sambil nyengir tapir.
Mendung hitam menggantung di langit.
Kakek Elang mencoba menafsirkan mimpi sang raja, "Rimba ini akan mencapai puncak kejayaan dengan syarat kita harus menumpas jiwa kerdil yang selama ini menyelimuti. Jiwa kerdil yang harus ditumpas itu bisa artinya kebodohan. Kebodohan yang menyelimuti itu jelas musuh kemajuan.! Jiwa kerdil itu juga bisa berarti perilaku tercela. Ini seperti sifat dengki, suka memfitnah, suka menyebarkan dusta, suka mengadu domba, ini yang bisa menimbulkan sikap saling curiga dan perpecahan.!"
Semua binatang yang berkumpul di pihak raja senang mendengar pencerahan itu.
Di bagian lain rimba, Celeng pun tengah menegaskan tafsirnya, _"Perintah Tuhan begitu gamblang. Jika kita bunuh binatang-binatang kecil, rimba ini akan mencapai puncak kejayaan. Apa kita mau melawan hukum Tuhan dan menggantinya dengan hukum rimba?"
"Mohon maaf paman Celeng," sahut Badak menanggapi, _"Maaf, tapi apa alasannya sehingga kita harus membunuh binatang kecil?"
"Pertama ini perintah Tuhan. Kita harus yakin bahwa perintahNya pasti benar! Jangan gunakan akal kita untuk mencari-cari alasan!" suara Celeng terdengar lantang, "Saya sudah pernah menyampaikan mengenai sistem pertenakan bukan? Di pertenakan tidak ada kandang untuk binatang kecil seperti belalang, capung, ulat, kumbang. Mereka itu cepat berkembang biak dan hanya menghabiskan makanan. Itulah kenapa mereka harus ditumpas!"
Ular berkomentar, "Tapi saudara Celeng, binatang kecil itu juga ciptaan Tuhan, kenapa Tuhan menyuruh kita membunuh?" Ular sadar bahwa dia juga tidak mungkin tinggal di pertenakan. Itulah kenapa dia mengusulkan sistem kebun binatang. Tapi selama ini dia mendukung Celeng karena memiliki tujuan yang sama, yakni menyingkirkan sang raja rimba.
"Betul. Saya juga berpikir begitu," Badak menambahkan.
"Perintah Tuhan!" jawab Celeng tegas, "Kalian jangan pernah meragukan itu! Apa kalian pikir akal kalian itu lebih hebat? Tuhan yang lebih tahu!"
Angsa menyahut dari atas dahan, "Paman Celeng, kakek Elang bilang yang dimaksud jiwa kerdil itu sebenarnya adalah sifat tercela. Bagaimana menurut paman?"
"Kalau sudah menyangkut perintah Tuhan, kita dengar dan kita laksanakan. Itu ciri-ciri beriman!" Celeng jelas terlihat jengkel menanggapi pertanyaan itu, "Kakek Elang sudah tua dan kurang sehat, jadi akalnya terganggu, pendapatnya itu jelas ngawur..!"
"Setuju!" sahut Ruba,
"Itu tafsir yang paling ngawur. Elang memang kubu raja, jadi jelas tafsirnya menguntungkan pihak mereka. Demi kejayaan kita, mari kita tumpas makhluk kecil yang menyelimuti rimba ini! Tunggu apa lagi!"
"Jika ada yang mencoba melawan perintah Tuhan, berarti tidak menghendaki kejayaan rimba ini." timpal Celeng, "Berarti dia musuh kita. Kalau mereka mati jangan kita kubur bangkainya. Buang saja ke sungai. Mereka pantas mendapatkan itu!" Pungkas Celeng penuh kebencian sambil nyengir tapir.
Mendung hitam menyelimuti langit.
Celeng semakin optimis bahwa impiannya untuk menguasai rimba akan segera terwujud. Mimpi raja Singa itu merupakan berkah tersendiri bagi koalisinya, dan tentu saja terutama bagi dirinya. Celeng sang konseptor ulung.
Ular Sanca yang pakar tipu muslihat memberi masukan, "Saudara-saudara, mimpi Singa itu memang berkah bagi kita, tapi mengandalkan itu saja belum cukup.! Perang tafsir itu tidak berpengaruh bagi mereka yang pandir.!"
Buaya sebagai ahli menghasut massa menyahut, "Ini menarik, lanjutkan Sanca!"
"Kita harus memecah belah kekuatan mereka!" Jawab Ular.Celeng tersenyum ceriah, "Betul!"ujarnya. _"Kita cari cela-cela yang bisa kita goreng untuk itu..!"_
Rubah dan Badak menyimak lebih serius. Fitnah akhirnya bergentayangan di tengah-tengah masyarakat. Merajalela. Rimba kesesatan. Rimba kebencian. Rimba adu domba.
Dengan penampilan anggun, Buaya mengusai mimbar dan berceramah, "Demi menyelamatkan rimba yang kita cintai ini, kita harus paham siapa musuh-musuh kita. Kita tahu, manusia yang berburu itu selalu menunggang kuda. Berarti Kuda itu pengkianat. Dia jongos manusia yang membunuh anak-anak kita. Kita juga tahu bahwa Kuda itu adalah pengawal raja. Kesimpulannya adalah....!"
Di tempat lain Ruba dengan marah berkhotbah, _"Perintah Tuhan itu begitu gamblang dan terang benderang, rimba ini akan mencapai kejayaan dengan syarat kita tumpas binatang-binatang kecil. Mereka adalah tumbal kejayaan. Tidak ada kejayaan tanpa pengorbanan!!"Mimpi raja itu dipahami secara tekstual. Siapa pun yang tidak setuju dengan tafsir itu akan dicap, "Goblok.! Munafik.! Sesat..! Kafir...!" teriak Ruba dengan suara serak.
Badak si penjilat yang handal dalam menjejakan kaki di kedua belah pihak, berbisik kepada Singa, "Paduka raja, tuan Celeng, Ular, Buaya dan Ruba itu sangat prihatin dengan keadaan rimba kita ini. Mereka binatang yang tulus ikhlas mencari solusi demi rimba ini agar mencapai puncak kejayaan. Tapi ternyata ada penghalang besar dan membahayakan kelangsungan hidup rimba ini yang justru berada dekat dengan anda..!"
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Singa.
"Saya tidak mau memfitnah, tapi ini bukan rahasia lagi. Semua rakyat sudah tahu dan banyak yang melapor kepada saya. Karena kepedulian saya kepada tuan dan rimba ini, maka hal ini terpaksa saya sampaikan..!"
Badai fitnah mengamuk hebat, dijejalkan terus-menerus agar menyerupai kebenaran. Kebencian menjadi agama.(***)
Selasa, 09 Mei 2017
Eling Lan Waspada : Inspirasi Pesan Singkat Seorang Ayah
Oleh : Adam Rouf Hidayat
Terinspirasi dari pesan singkat yang dikirim oleh seorang ayah kepada anaknya dengan membubuhkan nasehat singkat berupa "eling lan waspada". Sebuah nasehat singkat dalam bahasa Jawa namun penuh dengan makna yang tersirat di dalamnya. Tentang perkara dunia yang sebenarnya fana.
Syekh Ibnu Athaillah dalam kitab Al Hikam :
اِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَليْلٌ عَلى انْطِمَاسِ البَصِيْرَةِ مِنْكَ
Artinya : Manakala engkau bekerja keras untuk meraih hal-hal yang sudah dijaminkan untukmu, sementara engkau teledor untuk mengerjakan hal-hal yang merupakan keharusan bagimu, maka itu adalah pertanda engkau kehilangan mata batin.
Secara awam, ungkapan ini pada hakikatnya mengajarkan kepada kita pentingnya mempertajam mata batin. Dalam filosofi Jawa, ada istilah yang khas "eling lan waspada" ingat dan waspada. Manusia harus selalu waspada, agar tak tergelincir mengerjakan hal-hal yang kurang perlu, seraya mengabaikan perkara yang lebih prioritas.
Dalam beragama ada ajaran tentang “mindfulness”, kondisi selalu sadar dan awas, tidak lengah. Manusia adalah makhluk yang berkesadaran. Sadar artinya adalah sadar mengenai sesuatu. Sadar adalah kegiatan mental yang berasal dari dalam diri manusia, dan mengarah keluar. Orang yang sadar berarti menyadari segala sesuatu yang ada di lingkungannya.Seorang yang sadar kecil kemungkinannya untuk terpeleset. Seseorang yang terpeleset biasanya karena dia lengah, tidak memperhatikan situasi disekelilingnya. Sesuatu yang menyelamatkan manusia dari keterpelesetan adalah sikap waspada, awas,mindfulness. Sementara sikap yang membuat seseorang mudah jatuh adalah lalai.
Saat seseorang sadar, tidak lengah, dia tahu mana yang perlu dilakukan, mana yang tidak. Dia mengerti skala prioritas. Dia mengerti mana yang mendesak, mana yang tidak. Dia akan memberikan perhatian yang lebih pada hal-hal yang mendesak dan penting. Hal-hal yang tidak perlu, tak akan mendapatkan perhatian terlalu besar darinya.
Seseorang yang sadar juga tahu mana hal yang mempunyai manfaat dalam jangka panjang, mana yang hanya memberikan rasa gratifikasi atau kepuasan dalam jangka pendek. Dia memberikan perhatian yang yang besar pada yang pertama, dan tak terlalu terkecoh dengan hal yang kedua. Orang yang sadar biasanya memiliki pandangan jauh ke depan, bukan pandangan yang pendek. Jika engkau sibuk mengurus perkara yang gampang, karena sudah pasti dengan mudah bisa kau peroleh, dan mengabaikan hal yang lebih penting dan bernilai, tetapi harus kau perjuangkan dengan susah payah, maka itu pertanda kau lengah atas skala prioritas. Artinya engkau lebih memilih daerah yang nyaman. Engkau takut merambah hal baru, karena masih asing dan penuh resiko.
Minggu, 05 Juli 2015
Siapa Peramal Kiai Sahal Jadi Rais Aam dan Gus Dur Jadi Presiden?
Putra sulung KH Saifuddin Zuhri ini tidak meramal berdasar hitungan weton atau klenik. Akan tetapi, melihat orang dan sosoknya serta mempelajarinya dari sisi biologi dan anatominya. Walhasil, kesimpulannya, Kiai Sahal bakal jadi Rais Aam dan Gus Dur harus jadi presiden.
Pejabat Rais Aam Syuriah PBNU KH A Musthofa Bisri (Gus Mus) menuturkan hal tersebut saat didaulat memberikan taushiyah pada Haul ke-1 Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh di Pesantren Maslakul Huda Kajen-Margoyoso-Pati, Jawa Tengah, Selasa (13/01/15) malam.
Ironisnya, lanjut Gus Mus, saat Gus Dur jadi presiden ternyata dokter Fahmi justru sedang sakit keras. “Jadi, sebelum ke Kajen Presiden Abdurrahman Wahid terlebih dahulu mengunjungi sahabatnya itu. Dokter Fahmi nangis karena merasa enggak bisa bantu sahabatnya yang telah jadi presiden,” ujarnya.
Gus Mus mengatakan, ramalan dokter Fahmi terkait Kiai Sahal ternyata benar. Pada Muktamar NU ke-31 di Lirboyo, Kediri tahun 1999 terpilihlah Kiai Sahal sebagai Rais Aam menggantikan ajengan asal Cipasung, KH M Ilyas Ruchiyat.
“Meski meleset sedikit, karena Kiai Sahal terpilih sebelum tahun 2000. Namun, ramalan dokter Fahmi cukup menarik karena dia melihat Kiai Sahal sebagai tokoh yang konsisten, luas ilmunya, dan benar-benar memikirkan masyarakat,” ujar Gus Mus mengutip dokter Fahmi.
Selain karena luasnya ilmu, lanjut Gus Mus, Kiai Sahal termasuk kategori ulama yang memiliki perhatian, keberpihakan, dan melihat persoalan masyarakat dengan penuh kasih sayang. “Saya selalu mengistilahkannya yandzuruunal ummah bi ‘ainir rahmah, yang memandang umat dengan mata kasih sayang,” tuturnya.
Bagi Gus Mus, Kiai Sahal merupakan tokoh yang memiliki lompatan fenomenal. Sebab pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen ini bisa menembus ulama generasi pertama dan kedua.
“Mestinya, Kiai Sahal itu generasi ketiga. Jadi, generasi pertama ada Mbah Hasyim Asyari, Mbah Wahab, Mbah Bisri. Generasi kedua, ada Kiai Wahid Hasyim, Kiai Mahfudh Shiddiq. Ternyata Kiai Sahal ini sering diajak bicara beliau-beliau itu karena keluasan ilmunya,” ungkap Gus Mus.
Umat Islam Berhutang Jasa Kepada Mbah Wahab
Pengakuan disampaikan Gus Ipul, sapaan akrabnya saat memberikan sambutan pada seminar nasional: Kepahlawanan Nasional KH A Wahab Chasbullah, sumbangsih terbesar putra terbaik Bahrul Ulum untuk bangsa dan negara. Kegiatan diselenggarakan di aula pesantren setempat, yakni Tambakberas Jombang Jawa Timur, Ahad (17/5).
"Diantara sumbangsih terbesar yang diberikan Mbah Wahab adalah kemampuannya dalam bernegosisasi dengan penguasa Saudi Arabia yang beraliran Wahabi," katanya di hadapan kiai pengasuh pesantren, dosen, guru dan mahasiswa yang hadir. Lewat Komite Hijaz, Mbah Wahab mampu meyakinkan penguasa saat itu, sehingga membawa tiga hasil yang sangat membanggakan, lanjutnya.
Secara rinci, Gus Ipul mengemukakan bahwa hal pertama yang berhasil diperjuangkan Mbah Wahab adalah tidak akan membongkar makam Rasulullah SAW. "Sehingga kalau kemudian sekarang kita bisa melihat dan berziarah ke makam baginda Nabi Muhammad, itu adalah buah dari kegigihan Mbah Wahab dalam meyakinkan penguasa Saudi saat itu," terangnya.
Padahal seperti diketahui, setelah kejatuhan kekuasaan Turki Ottoman, mayoritas situs bersejarah di Makkah dan Madinah diratakan dengan tanah. "Dari mulai kuburan para sahabat, rumah kelahiran rasulullah dan sebagainya telah dimusnahkan," ungkapnya.
"Hasil kedua yang cukup membanggakan adalah diberikannya keleluasaan bagi jamaah haji dan umrah untuk beribadah sesuai madzhab yang diyakini," terang salah seorang Ketua PBNU ini. Sehingga sampai sekarang, dapat disaksikan beragamnya madzhab yang ditunjukkan oleh para jamaah saat melaksanakan dua ibadah tersebut, lanjutnya.
Sedangkan keberhasilan ketiga dari lobi Komite Hijaz pimpinan Mbah Wahab adalah diluluskannya pelayanan haji dengan disesuaikan muassasah dari jamaah setempat. "Sehingga hingga kini para jamaah disesuaikan dengan muassasah kawasan setempat, baik itu kawasan Asia, Afrika dan sebagainya," ungkap Gus Ipul.
Dengan keterbatasan alat komunikasi, sulitnya memperoleh kendaraan, juga ongkos pergi pulang yang dikeluarkan selama melakukan perjalanan dan biaya selama berada di Makkah, tapi Mbah Wahab sukses mengemban amanah tersebut.
"Hal ini ditambah dengan kondisi penguasa baru saat itu dan tentunya berseberangan dengan misi Mbah Wahab," katanya. Hal inilah yang kerap dilupakan banyak kalangan serta tidak diungkap dalam sejarah, katanya menyayangkan.
Hal ini belum termasuk kiprah yang telah berhasil ditorehkan Mbah Wahab saat kepulangan dari belajar di sejumlah pesantren dan Saudi Arabia.
"Karenanya bangsa ini dan bahkan umat Islam di dunia sangat berhutang jasa kepada sosok Mbah Wahab," pungkas Gus Ipul.
Kenapa Salafi-Wahabi Sedikit Lagi Jadi Teroris?
KH Said Aqil Siroj berpendapat, kelompok Salafi-Wahabi memiliki keyakinan, hanya Islam versi mereka saja yang benar, sementara orang di luar mereka sudah dianggap bukan Islam.
“Dari situ, mereka beranggapan, kalau bukan Islam maka halal darahnya, boleh dibunuh, tinggal tunggu kapan ada kesempatan, ada kemampuan dan ada keberanian,” katanya.
Ia menegaskan tidak mengatakan Salafi-Wahabi itu teroris, tapi ekstrem, tertutup, dan kaku. Kelompok puritan yang menganggap dirinya yang paling benar, yang lain salah. “Walaupun ustadznya mengatakan, jangan melakukan kekerasan, nggak bisa. Kalau mengatakan 'yang lain salah, yang benar hanya kami', ini sudah membuka pintu bertindak keras dan menghakimi.”
“Ini menjadikan murid-muridnya yang salah paham gampang sekali menjadi teroris,” tegasnya.
Kesadaran akan bahaya ajaran Salafi Wahabi juga sudah muncul di Timur Tengah. Kementerian Wakaf (Kementerian Agama) Mesir melakukan pemeriksaan di sejumlah masjid di Kairo. Dari pemeriksaan tersebut pemerintah menyita buku-buku yang berbau gerakan Salafi, terutama buku-buku yang ditulis oleh Muhammad bin Abdul Wahab, Ibn Baz, Ibn Utsaimin, Ibn Taimiyah, Said Abdul ‘Adhim, Abdul Latif Mustahri, Abu Ishaq al-Huwaini, Mohammed Hussein Yacoub, dan Mohammed Hassan.
Surat kabar al-Watan pada hari Kamis (25/6), mengatakan bahwa penyitaan buku-buku ini datang setelah sebelumnya pemerintah melakukan penyitaan ratusan buku, kaset dan CD dari masjid “Ummahat Mukminiin”, dan masjid “Tauhid” di BarMasis dan Basbara.
Upaya membendung tindakan kekerasan atas nama agama juga dilakukan pemerintah Tunisia yang berencana menutup 80 masjid yang dinilai menghasut jamaah untuk melakukan tindak kekerasan.
Jumat, 28 November 2014
Melirik Gaya Pengentasan Kemiskinan Ala Kiai Pesantren
Berikut wawancara Mukafi Niam dengan Kiai kharismatik tersebut disela-sela rapat pleno PBNU di kompleks Unsiq Wonosobo, beberapa waktu lalu tentang bagaimana metode pengentasan kemiskinan ala pesantren.
Bagaimana pola pengembangan ekonomi berbasis pesantren?
Saya ini pengusaha pertambakan, tapi masih menggunakan pendekatan konvensional atau alamiah, belum sampai pada memakai model yang canggih dan intensif, tapi sensitif, kalau mati, ya mati semuanya. Saya memelihara bandeng dan udang, alhamdulillah berhasil.
Sampai berapa hektar yang dikelola?
Kurang lebih ada 15 hektar
Melibatkan santri atau ada tenaga kerja khusus?
Ada anak santri yang tidak nyangu (membawa bekal) dari rumah yang bekerja. Jadi yang ngarap pertanian santri, pertambakan juga santri, semuanya dikerjakan setelah pelajaran sekolah. Jadi makan semuanya dari sini, sekolahnya juga tidak membayar, semuanya gratis.
Ada berapa banyak santri yang dilibatkan?
Tidak pasti, ada anak yang ditempatkan di dapur, di pertanian atau di tambak.
Sekaligus melatih mereka berusaha?
Ya, saya dalam membangun gedung juga tidak memakai tukang. Maka anak santri yang keluaran dari situ, kadang pulang ke rumah ada yang jadi tukang, sambil mengajar masyarakat. Jadi karena yang mengerjakan anak santri, biayanya tidak terlalu berat.
Kalau ada tamu yang datang, saya tunjukkan, gedung-gedung pesantren sampai berlantai tiga yang membangun santri banyak yang heran. Ada sejumlah alumni santri yang bekerja di kontraktor-kontraktor besar di Jakarta, lama-lama mereka ahli dan membantu ketika kami membutuhkan keahliannya.
Kalau untuk upaya pengentasan kemiskinan bagaimana?
Upaya pengentasan kemiskinan tentu dilakukan sesuai dengan cara dan kapasitas yang kami miliki.
Satu contoh, pernah ada orang yang kurang mampu, ia datang ke tempat saya, bila
“Kiai bagaimana saya, disamping ekonomi lemah, anaknya banyak dan tidak memiliki harta benda.”
Terus saya tanya, “sampean punya duit berapa.”
Orang tersebut menjawab “10 ribu.”
“Gini saja coba, belikan ayam. Waktu itu ayam 500 rupiah.”
Akhirnya datang ke saya membawa 20 ayam.
Ayam itu dibawa ke rumah saya, terus saya bilangan, bukan dibawa ke saya, tapi dibawa ke rumah sampean.
“Ayam ini sampean sembelih sendiri, dengan tangan sampean sendiri bersama istri.”
“Lalu, bagaimana selanjutnya,” tanya orang tersebut.
Saya bilang, “nanti jam 12 malam, saudara datang ke saya, nanti saya bisiki.”
Jam 3 malam mereka selesai memotong ayam, setelah itu, datang lagi, “gimana kiai.”
“Ini dipotongi yang baik,”
Pekerjaan tersebut dilakukan sampai subuh. Jam tujuh kemudian datang lagi, “Lalu untuk apa.”
Saya bilang, “ini ada timbangan, saya pinjami dulu, coba dijual ke pasar, kira-kira dapat berapa.”
Akhirnya jam 11 siang sudah pulang, dapat uang 16 ribu. “Kira-kira 3 ribu cukup untuk makan ngak.”
“Cukup.”
“Itu yang 13 ribu dibelikan ayam lagi.”
Atas usahanya tersebut, akhirnya, alhamdulillah, saat ini setiap hari, orang tersebut bisa menghabiskan ayam dua kuintal, ini kan juga upaya pengentasan kemiskinan.
Ada contoh lain, orang datang dan bilang, “kiai saya punya warung makan, tapi habisnya paling-paling tiga kilo sate dengan gule, bagaimana supaya warungnya bisa berkembang dengan baik.”
Nah, saya waktu itu saya akan ke Brebes, “Mau ikut ngak.”
Dia lalu ikut, saya ajak ke warung yang jual sate dan gule paling enak, setelah makan gule dan sate saya tanya.
“Gule dan sate anda lebih enak mana daripada yang ini. Kira-kira saudara ngerti ngak. Kalau enak disini, gimana menirunya.”
“Asal sesuai dengan seleraanda, kan biasanya rame.”
Sekarang jualan satenya Alhamdulillah, berhasil. Ini juga pengentasan kemiskinan.
Saya juga menanam semangka, saya beritahu masyarakat bagaimana caranya, dapatnya berapa. Para petani akhirnya banyak yang meniru.
Saya juga belum sampai yang seperti industri, biayanya kan besar. Ini upaya pengentasan kemiskinan sesuai dengan kondisi masing-masing, pada prinsipnya bisa.
Di Kaliwungi, saya juga mengawali penanaman brambang (bawang merah), sekarang sudah banyak yang mengikuti.
Masyarakat pedesaan harus dikasih tahu dulu?
Ya memang betul itu, malah kadang bukan hanya masalah penanamannya, kadang rabuknya (pupuknya) juga berganti-ganti, sesuai dengan kondisi dan tanah masing-masing.
Kok bisa dapat inspirasi menanam semangka atau brambang?
Saya kan petani, keluarga saya petani. Sebelum di Kaliwungu saya tinggal di Brebes. Cuma, yang namanya pengobatan atau pupuk, harus sesuai dengan tanahnya masing-masing. Di Kaliwungu berbeda dengan Brebes. Di Kaliwungu, lebih ngirit pengobatannya. Tapi pada prinsipnya, pengentasan kemiskinan. Pesantren harus terlibat dalam pengentasan kemiskinan, tidak hanya mengajarkan materi keagamaan.
Saya juga ajarkan istighotsah, mengajarkan masyarakat berdzikir. Sekarang banyak musibah, di Amerika ada tornado, Jepang ada tsunami, di Indonesia ada Lapindo, yang sekarang sulit diatasi, ada gempa. Dan untuk mengatasi ini, saya kira teknologi dan ilmiah saja tidak cukup. Dalam satu hadist ada yang mengatakan, tidak ada persoalan yang bisa mengatasi marahnya Allah, kecuali doa. Maka dari itu, saya berdoa dan bedzikir kepada Allah, moga-moga tidak ada tsunami dan gempa, atau masalah lain.
Jumat, 21 November 2014
Kiai Siraj Ajarkan Kita Menghormati kepada Siapapun
Namun, dari pantauan NU Online acara haul yang dilangsungkan di Pesantren As-Siraj Panularan Solo tetap berjalan dengan khidmat. Ribuan jemaah yang hadir juga larut dalam acara yang dirangkai dengan pembacaan dzikir, sholawat dan manaqib yang dibacakan oleh KH Makin Shoimuri, cucu Kiai Siraj.
Kiai Makin yang kini menjadi salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang tersebut menjelaskan tentang riwayat kehidupan kakeknya. Antara lain tentang masa ketika Kiai Siraj tengah mencari ilmu.
“Mbah Siraj ini pernah berguru ke berbagai ulama, antara lain Kiai Soleh Darat Semarang dan Kiai Dimyati Tremas Pacitan,” ungkapnya.
Lebih lanjut dipaparkan mengenai pribadi Kiai Siraj yang juga dikenal sebagai salah satu mursyid thariqah Naqsabandiyah Qadiriyah. “Beliau mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menghormati kepada siapapun, bahkan kepada orang non-muslim sekalipun,” tuturnya.
Kiai Siraj selain memiliki akhlak yang mulia, juga diketahui khalayak karena memiliki beberapa karomah. Hal ini membuatnya dianggap banyak orang sebagai salah satu waliyullah.
Acara peringatan haul Kiai Siraj ini sekaligus untuk memperingati haul beberapa anak keturunannya, antara lain Kiai Shoimuri (pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Boyolali) dan Kiai Mubin Shoimuri (Ketua PCNU Kota Solo). (Ajie Najmuddin/Mahbib)
Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat
Namun, isi wawancara yang dilakukan Ahmad Fawaid Sjadzili dan Hamzah Sahal dinilai amat relevan untuk diterbitkan lagi. Dalam wawancara ini, Allahu yarham Kiai Sahal seperti berwasiat tentang anakmuda, Nahdlatul Ulama, Aswaja, tak ketinggalan Indonesia.
Dengan beberapa pemotongan, NU Online menerbitkan kembali wawancara ini, di tengah peringatan 40 hari wafatnya, yang banyak diselenggarakan masyarakat di banyak tempat.
Kiai Sahal, Anda masyhur dengan konsep fiqih sosial. Apa yang melatarbelakangi gagasan tentang fiqih sosial?
Saya melihat ulama itu kalau sudah bahtsul masail, dan membahas fiqih itu terlalu sakral. Saya tidak tahan dengan sikap-sikap seperti itu. Karena fiqih itu adalah hasil dari pemikiran manusia, berdasarkan ijtihad yang dilakukan manusia, bukan dogmatis. Jadi tidak sakral. Untuk menghilangkan itu, saya menggunakan istilah fiqih sosial, bagaimana fiqih itu menjadi hal yang memasyarakat, bukan hal yang sakral.
Kongkretnya bagaimana?
Kongkretnya karena kehidupan sehari-hari tidak bisa lepas dari kode etik. Sekarang saja saya tidak bisa lepas dari kode etik. Saya harus melayani Anda sebagai tamu dengan ramah; Anda bertanya dan saya menjawab pertanyaan Anda. Fiqih itu luas. Anda jauh lebih muda dari saya, tapi saya suguhi minuman sebagai penghormatan. Jadi meskipun Anda masih muda, saya tidak pantang untuk melayani Anda, karena Anda tamu. Apalagi ada maksud baik, yaitu mau wawancara. Ini fiqih.
Apa yang paling prinsif dari fiqih sosial?
Fiqih sosial itu begini, masalah-masalah sosial yang ada kaitannya dengan hukum. Dan saya pikir semua masalah sehari-hari ini ada kaitannya dengan hukun dan juga fiqih.
Bagaimana agar fiqih tetap relevan?
Fiqih itu kan hidup dengan ijtihad. Ijtihad itu disesuaikan dengan kebutuhan. Ijtihad itu kan berusaha untuk mencapai kebutuhan.
Ijtihad jadi kata kunci dalam fiqih?
Ya. Ijtihad jadi kata kunci.
Bagaimana dengan anggapan pintu ijtihad telah tertutup?
Ijtihad bermacam-macam, ada ijtihad mutlaq dan ijtihad muqayyad, ijtihad yang bebas dan terbatas. Ijtihad itu ada yang ijtihad madzhab dan ijtihad qaul. Ijtihad itu tidak punya pintu, sehingga tidak ada istilah tertutup atau terbuka. Tidak mampu melakukan ijtihad, saya kira iya. Tapi jangan disamakan antara tidak mampu ijtihad dengan ijtihad ditutup.
Persoalannya, siapa yang memapu menjadi Imam Syafi’i sekarang? Apakah ada yang berani mengaku seperti Imam Syafi’i? kan imam mujtahid mutlaq seperti imam yang empat?
Sekarang bagaimana? Ada yang tahu hadits dan Al-Qur’an cuma sepotong-potong; ada yang hafal tapi tidak mengerti; ada juga yang mengerti tapi tidak hafal. Kekuarang selalu banyak. Berbedaan dengan ulama terdahulu yang hafal Al-Qur’an sekaligus menguasai tafsir. Kemampuan saya dibanding ayah saya sangat jauh. Bahkan bisa dikatakan, saya tidak mampu menandingi ayah sama sekali. Ayah saya hafal Al-Qur’an, menguasai kitab dan pengetahuan kemasyarakatan. Tapi saya tidak mampu seperti itu.
Kiai, bagaimana perkembangan kajian keislaman saat ini?
Masih relatif bisa diharapkan, meskipun berkurang. Masih banyak pesantren yang memiliki prinsip mengajarkan dirosat islamiyah (kajian keislaman), terutama di bidang fiqih.
Keputusan bahtsul masail di Muktamar Boyolali dan Munas Surabaya dinilai tidak progresif dibandingkan dengan Munas Lampung. Bagaiamana menurut Kiai?
Tidak progresif?
Misalnya hermeunetika diharamkan di Muktamar Boyolali?
Kalau orang memutuskan haram itu karena situasi. Jangan dianggap menurun dong. Boleh dong kalau ada pertanyaan ‘kok dihalalkan terus?’ Harus obyektiflah. Orang yang berbicara begitu belum tentu tahu fiqih. Jadi harus melihatnya secara obyektif.
Berbicara tentang pesantren sebagai lumbung kader NU. Bagaimana situasi pesantren saat ini?
Keadaan pesantren sekarang lain dengan pesantren yang dulu. Kalau pesantren yang dulu itu terkonsentrasi. Para santri dan para kiai pengasuh pesantren terkonsentrasi pada ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Sehingga melahirkan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang susah dipisahkan dan susah dibuang begitu rupa. Tradisi itu melekat, inhern pada kehidupan sehari-hari mereka. Itu yang pertama.
Yang kedua, pada sistem pesantren itu sendiri. Sistem pesantren itu dulu lebih memfokuskan kepemimpinan pada pengasuh. Tapi itu dulu. Sekarang pesantren beda, karena terpengaruh dengan sistem demokrasi. Jadi sistem demokrasi itu masuk di pesantren telah mengubah sistem pesantren, sehingga kepemimpinan pengasuh itu tidak terjadi lagi. Mending kalau pengasuhnya kebetulan peduli dengan perkembangan ini, sehingga kiai itu bisa memberikan arahan-arahan. Kalau tidak, susah juga.
Bagaimana pengalaman Kiai di Kajen?
Kalau saya, saya ikuti. Santri saya beri kebebasan sebebas-bebasnya, tetapi dengan arahan. Tidak lalu bebas mutlak. Dan arahan saya tidak monolog. Saya selalu memberi arahan melalui dialog. Karena mereka sadar bahwa tidak mungkin santri itu hidup sendiri dengan kemandirian penuh, masih ada ketergantungan pada pengasuhnya. Mereka sendiri yang mempunyai kesadaran seperti itu, bukan karena saya yang memengaruhi.
Apa faktor yang mengubah kondisi pesantren saat ini?
Faktor pemahaman demokrasi yang kurang begitu tepat. Orang gampang bicara demokratisasi. Semetara di mana menempatkan demokrasi itu tidak dipikirkan. Dan tentu tidak semua hal secara general harus disikapi dengan demokrasi. Ada aspek-aspek yang tidak bisa diselesaikan dengan demokrasi.
Misalnya?
Aspek dogmatis misalnya. Itu tidak bisa diselesaikan dengan demokrasi. Banyak h al lain yang berkaitan dengan pesantren yang tidak bisa diselesaikan dengan demokrasi. Bayangkan kalau aspek dogmatis diselesaikan dengan demokrasi.
Tentang politik praktis, Kiai. Apa tanggapan Anda tentang perbedaan politik praktis di NU dan pesantren?
Itu bukan perbedaan politik. Bagi saya, perbedaan sikap yang ada pengaruhnya. Sipa para pengurus pesantren yang belum bisa melepas politik akan berbeda ketika memimpin NU, karena akan selalu mempolitisir NU. Apabila pengurus NU-nya telah melepaskan politik praktis, tidak aka nada upaya mempolitisir NU. Salah satu contohnya adalah Pilkada.
Apa yang musti dilakukan pesantren?
Ya tergantung pengasuhnya. Kalau pengasuhnya cuek, ya sudah lepas semua. Tapi kalau pengasuhnya masih punya pengaruh dan punya idealisme, masih memberikan arahan-arahan pada santrinya, itu bisa terselamatkan. Jadi itu tergantung pada pengasuhnya. Sekarang banyak pengasuh-pengasuh muda yang sikapnya tidak lagi sesuai dengan motivasi munculnya pesantren waktu didirikan.
Nilai apa yang harus dipertahankan agar pesantren tetap pada relnya?
Ya Ahlussunnah wal Jama’ah. Apalagi?
Kenapa Ahlussunnah wal Jama’ah?
Ahlussunnah wal Jama’ah ini nilai yang bisa dinegosiasikan. Bagaimana juga kebiasaan-kebiasaan masyarakat dipertahankan. Cuma terkadang masyarakat terlalu formalistik, dan ini tidak diterima, menggunakan dalil ini dan dalil itu. Pendekatan-pendekatan budaya, lewat kultur dan tidak formalistik, itu harus dipertahankan.
Selain menjadi Rais Aam PBNU, Kiai juga menjadi Ketua Umum MUI. Apakah ada masalah?
Tidak ada.
Tidak ada konflik kepentingan?
Tidak ada. Yang penting ada komunikasi. Sikap-sikap NU terhadap MUI misalnya bisa saya netralisir di NU. Di MUI juga ada persoalan dengan NU, saya juga memberikan penjelasan di MUI. Dan sampai sekarang NU tidak pernah menanyakan bagaimana situasi di MUI. Saya selama menjadi ketua MUI, oleh siapapun di NU tidak menanyakan bagaimana situasi saya menjadi ketua.
Terkait dengan NU. Kita bisa bercerita bagaimana pengalamannya memangku Rais Aam PBNU sejak Muktamar Lirboyo tahun 1999?
Sejak saya memangku Rais Aam, kami sebenarnya ingin mengkongkretkan NU ke khittah 26, yang sampai saat ini sebenarnya masih tarik ulur dengan pengurus yang memiliki kepentingan politik. Itu yang saya rasakan suka dukanya memimpin NU. Di samping itu, bukan pekerjaan yang mudah menghilangkan atau menghapus syahwat politik yang demikian besar, baik di kalangan masyarakat NU sendiri maupun pengurus NU sendiri untuk kembali kepada NU sebagai jam’iyah maupun NU sebagai jama’ah yang memfokuskan diri kepada persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan, tidak lagi berusan dengan partai politik atau politik praktis.
Nah, untuk mencapai itu semua saya mendapatkan banyak kendala. Pertama,susahnya menghilangkan syahwat politik dari kalangan masyarakat NU sendiri. Kedua, generasi pengurus baru yang akan membawa NU kembali ke khittah 26 juga belum siap sepenuhnya. Ketiga, lingkungan masyarakat di Indonesia ini diliputi oleh gejolak politik yang tidak stabil, yang itu juga mendorong warga NU untuk tidak saja meninggalkan respon politis. Itu yang saya rasakan selama ini.
Kenapa jama’ah dan jam’iyah NU gagap, padahal khittah 26 sudah berjalan 24 tahun?
Karena begitu kuatnya atmosifir politik praktis di NU. Lebih-lebih NU punya sejarah gemilang sebagai partai politik, Partai NU pernah menjadi partai terbesar ketiga. Sehingga wajar bila warga NU begitu kuat syahwat politiknya, dan susah meninggalkan sama sekali urusan politik praktis, kecuali orang NU yang memiliki idealisme. Sementara warga NU tidak semuanya memiliki idealisme, bahkan seringkali apa yang dilakukan merupakan respon sesaat.
Apa solusi terhadap kenyataan tersebut, Kiai?
Harus ada regenerasi. Regenerasi atau kaderisasi membutuhkan proses yang sangat panjang. Sayangnya generasi yang sudah siap juga terkontaminasi oleh politik praktis yang tidak jelas arahnya.
Bagaimana upaya menuju regenerasi?
Itu tak bisa saya sendiri dong. Karena apa? Cabang punya kepentingan. Itu karena hak pilih seorang pimpinan itu adalah muktamar kalau di tingkat Pengurus Besar. Atau Konferwil di tingkan Pengurus Wilayah, dan Konfercab di tingkangkat Pengurus Cabang. Jadi sebenarnya yang punya otoritas adalah Pengurus Cabang. Ini tidak mudah karena, perlu pemikiran komperhensif dan waktu yang panjang. Kembali lagi bahwa sementara ini pimpinan-pimpinan cabang itu juga tidak idealis, banyak yang pragmatis dalam memimpin NU. Sudahlah, kalaupun ada konferensi reformasi, kalau di sana-sini rebutan, apa idealnya ia menjadi pemimpin NU.
Apa upaya strategis untuk mengembalikan idelisme pengurus-pengurus NU dari tingkatan yang paling bawah hingga Pengurus Besar?
Saya kembali lagi pada masalah kaderisasi, regenerasi. Katakanlah pengurus lama itu anggap sudah selesai. Saya tidak sanggup untuk membalikkan pikiran kader-kader lama. Sudah berkali-kali saya upayakan sejak menjadi Rais Aam. Saya mendatangi seluruh orang Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Tidak ada yang ketinggalan, mulai dari Banten hingga Banyuwangi tidak ketinggalan. Di luar Jawa saya datangi seluruh provinsi untuk memasarkan khittah NU. Tidak dengan ceramah monolog, tapi dialog. Saya tidak mau ceramah monolog, karena orang mungkin mantuk-mantuk tapi tidak mengerti. Saya ingin mengetahui komentar mereka. Nah, itu loh suara mereka di luar sana.
Selama Kiai menjadi Rais Aam, apa yang bisa diceritakan kepada generasi muda?
Sebenarnya banyak pengalaman saya. Saya merasakan demikian besar dan luasnya pola hidup dan pola pikir warga NU. Tampaknya waktu itu pola pikirnya satu, tapi setelah menjadi Rais Aam saya baru tahu ternyata beragam. Bahkan mungkin bisa diistilahkan ada polarisasi, tapi saya tidak mengatakan seperti itu.
Polarisasi?
Ada dua pengertian polarisasi. Polarisasi memperkaya dan bisa polarisasi ekstrim. Nah, saya khawatir dengan polarisasi ekstrim.
Di NU yang mana, Kiai?
Tidak ekstrim. Tapi tidak bisa dikatakan memperkaya. Saya tidak mengada-ngada. Saya ngomong yang riil. Kalau saya nggak mampu saya bilang nggak mampu, sebab ini bukan pekerjaan yang mudah.
Situasi seperti apa yang dialami selama menjadi Rais Aam, yang bisa dibagi-bagi dan kemudian bisa diteruskan oleh kader kita?
Bagi saya, sepanjang kita masih berpegang teguh kepada ajaran Aswaja. Itu saja. Kalau ini sudah tidak dipertahankan, itu sudah fatal. Itu yang saya anggap prinsip selama menjadi Rais Aam.
Bagaimana mengamalkan Aswaja?
Tentu melalui perbagai macam pendekatan, pendekatan dialog, pendekatan pendidikan, pendekatan perilaku dan sikap.
Banyak orang menilai NU di zaman reformasi ini seperti toserba?
Tergantung dari mana melihat. Apanya yang serba ada? Kalau melihat dari generasinya memang sudah campur baur tidak karuan.
Dari pemikiran akidah dan politiknya misalnya?
Pemikiran juga seperti itu. Kembali pada persoalan proses demokratisasi pemikiran tadi, itu sudah terkontaminasi.
Demokrasi itu menghambat ya?
Bukan menghambat sepanjang kita masih mampu. Kan bisa diarahkan.
Kiai, minta nasehat untuk generasi muda.
Ya itu tadi, ke depan pasti ada perubahan. Dan sudah pasti regenerasi dilakukan. Jadi, tolonglah generasi-generasi muda NU merspon betul perkembangan NU secara internal. Demikian juga perkembangan masyarakat secara eksternal dikaitkan dengan perkembangan NU ke depan. Hal-hal semacam ini harus didiskusikan di internal anak muda sajalah. Saya lebih senang anakmuda karena masa depan itu bukan milik saya. Ke depan Anda-anda yang akan berperan.
Diskusi-diskusi anak-anak muda NU sering dinilai rombongan liar, Kiai?
Sepanjang untuk perkembangan NU menurut saya bukan rombongan liar.
Apapun diskusinya?
Sepanjang kepentingan NU dan betul-betul untuk perkembangan NU. Jangan membahas NU yang sekarang. Yang penting bagaimana NU di masa mendatang. Terkadang orang-orang juga kelewatan. Mereka menyoroti pimpinan yang sekarang, siapa yang tidak tersinggung. Belum tahu permasalahan NU sudah menyoroti pimpinan NU. Akui saja itu, masih ada yang begitu. Sepanjang diskusi itu untuk kepentingan NU ke depan, ini memang milik mereka kok. Ke depan, perjalanan sejarah milik Anda. Begitu menurut saya.
Yang membedakan NU sepuluh tahun terakhir ini dibandingkan sebelumnya apa?
Tidak ada. Saya jujur saja. Apa yang harus saya banggakan? Tidak ada.
Perkembangan yang perlu dilanjutkan generasi muda?
Tidak ada, ya masih standar-standar saja. Saya akui saja, saya tidak neko-neko kok. Meskipun orang luar NU melihat perkembangan dibandangkan dengan zaman dulu, itu komentar pribadi saja.
Apa yang harus dilakukan agar NU konsisten dalam berjuang?
Ya, Aswaja. Konsep aswaja itu merakyat.
Soalnya terlalu banyak kelompok lain yang mengaku Aswaja?
Ya Aswaja kita, Aswaja NU. Biar dia mengaku Aswaja, silakan saja. Memang Aswaja itu bukan hanyak klaim NU. Ya kalau terpaksa, katakan saja Aswaja ala NU. Aswaja ala NU itu merupakan ajaran yang diwarisi dan sudah diasah terus menerus di pesantren. Jadi kelompok-kelompok yang anti NKRI dan semacamnya itu harus dilawan dengan itu. Mereka juga tidak berani dialog kok. Dialog itu jalur mentok. Kenyataannya, dialog bukan membuat mereka untuk sadar. Berkali-kali dilakukan dialog, tapi masih kembali lagi. Itu namanya orang ngotot. Orang seperti itu kalau dilayani terus bisa membuang-buang waktu. Saya malas melayani seperti itu.
NU salah satu elemen besar di Indonesia. Apa yang seharusnya NU berikan dalam konteks negara saat ini?
Konsep mempertahankan NKRI (secara Islam, red.) itu NU yang punya, yang lain belum. Dan NU sudah berjuang untuk itu, dan konsisten mempertahankannya sampai sekarang. Jadi perjuangan NU jangan dianggap remeh. NU merasa ikut berupaya, merasa ikut bersungguh-sungguh. Kiai sepuh-sepuh itu dulu bergerilya memperjuangkan kemerdekaan. Saya saja ikut bergerilya. Jadi seusia saya dulu ikut bergerilya. Bapak saya ditahan oleh Belanda sampai meninggal di penjara Ambarawa Semrang garagara memperjuangkan hak kemerdekaan.










